400 Siswa Ikuti Sosialisasi Detektif Pangan dan B2SA

sosialisasi detektif pangan di Lapangan Sentyaki, Kelurahan Bulu Lor
ANTUSIAS: Siswa-siswi SD se-Korsatpen Kecamatan Semarang Utara mengikuti sosialisasi detektif pangan di Lapangan Sentyaki, Kelurahan Bulu Lor, Senin (19/6/23). (FADILA INTAN QUDSTIA/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Sebanyak 400 siswa dari sekolah dasar (SD) se- Koordonator Satuan Pendidikan (Korsatpen) Kecamatan Semarang Utara baik sekolah negeri maupun swasta mengikuti sosialiasi detektif pangan. Bertempat di Lapangan Sentyaki, Kelurahan Bulu Lor. Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Dinas Ketahanan Pangan (Distapang) Kota Semarang sebagai upaya membentuk karakter pola konsumsi beragam, bergizi, seimbang, dan aman (B2SA) pada anak sekolah.

Kepala Distapang Kota Semarang Bambang Pramusinto mengukapkan, adanya sosialiasi tersebut mengajarkan kepada anak sekolah untuk membawa bekal dengan kaidah B2SA. Seperti contohnya, dalam bekal yang dibawa berisi nasi, lauk pauk, sayur, dan buah-buahan.

“Kami berikan sosialiasi B2SA karena anak-anak itu kan seringkali bekalnya hanya nasi sama telur. Terus orang tuanya juga membiarkan hal itu. Jika seterusnya akan seperti itu artinya dia tetap tidak suka makan sayur dan buah,” ucapnya, Senin (19/6/23).

Lebih lanjut, dalam kegiatan sosialisasi itu pihaknya juga menyampaikan kepada guru pendamping yang hadir untuk membentuk detektif pangan, dengan dua anak di tiap angkatannya. Hal itu bertujuan, agar para detektif pangan untuk mengedukasi teman sekelasnya tentang kaidah Isi Piringmu.

“Tujuannya mengedukasi teman-temanya supaya kalau bawa bekal itu sudah sesuai dengan kaidah penuhi isi piringmu seperti ada nasi, sayur buah, lauk. Termasuk juga bisa memonitor jajanan yang ada di sekolah,” jelasnya.

Ia menambahkan, jika para detektif pangan menemukan kecurigaan adanya kandungan berbahaya di dalam jajanan SD, mereka dapat melaporkannya kepada guru. Lalu, guru bisa mengonfirmasi hal itu kepada Distapang.

“Jika ada yang mencurigakan bisa komunikasi dengan guru dan konfirmasi ke kami supaya kami bisa cek dengan mobil lab keliling,” ungkapnya.

Bambang berharap, kegiatan sosialisasi itu dapat menumbuhkan kebiasaan baru terhadap anak generasi muda. Yakni agar mengonsumsi makanan yang bergizi dan sehat.

“Saya harapkan itu pengawasan pangan itu maksimal penjual pun juga akan memilih produk-produk yang aman dan layak di jual di sekolah. Selain itu, dari pada pedagang bisa melakukan pengawasan pangan dengan memilah milih produk yang dijualkannya sebelum dikonsumsi oleh anak. Syukur–syukur makanannya aman. Kan mereka (siswa, Red.) juga suka jajanan SD itu,” harapnya.

Sementara itu, salah satu guru pendamping SD Sultan Agung Semarang, Nur Khasanah menyampaikan rasa syukurnya. Karena para siswa dapat diberikan edukasi yang baik tentang makanan yang patut dikonsumsi baik di lingkup sekolah maupun di dalam rumah.

“Ya senang karena anak-anak bisa tahu ternyata makanan berbahaya itu juga ada di jajanan sekolah. Toh juga kita sebagai guru pelan-pelan ya ngajarinnya soalnya kan mereka juga kebiasaanya njajan yang seperti itu,” ujarnya. (cr7/mg4)