Ini Penyebab Ketagihan Nyemil Selama WFH

Ilustrasi cemilan

LINGKARJATENG.COM – Sudah dua bulan lebih kebijakan work from home (WFH) diterapkan, dalam rangka untuk memutus penyebaran virus corona. Salah satu kebiasaan yang rentan terjadi selama WFH adalah nyemil makanan ringan atau snack secara berlebihan.

Psikolog Klinis Tara De Thouars mengamini, kebiasaan ngemil berlebih memang sangat rentan terjadi selama #dirumahaja di masa pandemi ini. Hal tersebut dipicu oleh rasa bosan atau kondisi emosi tidak stabil dikarenakan perubahan kebiasaan yang mendadak, ataupun ketakutan akan pandemi itu sendiri. Cara ngemil seperti ini lebih dikenal dengan sebutan emotional eater.

“Saat tekanan emosional hadir, tubuh seolah memberikan sinyal yang mirip seperti rasa lapar. Sebenarnya sinyal tersebut hanyalah respon terhadap perasaan yang menjadi pelarian dari emosi negatif. Jika dorongan tersebut terus diikuti, tentu tubuh akan kelebihan asupan dan tentunya akan semakin beresiko jika dilakukan secara berulang,” jelas Tara dalam keterangannya.

Tara menjelaskan bahwa kebiasaan ngemil sesungguhnya bisa menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan kalori harian dan menjaga stabilitas metabolisme tubuh, asal dilakukan dengan bijak. Memasuki bulan Ramadan, kebiasaan ngemil pun perlu disesuaikan mengingat terbatasnya waktu makan.

Namun sebagian orang terkadang tidak bisa makan banyak saat sahur ataupun berbuka sehingga lebih berisiko akan kekurangan asupan kalori. Padahal kebutuhan kalori harian tubuh tetap sama, baik berpuasa ataupun tidak.

“Kegiatan ngemil sebaiknya dilakukan secara sadar agar manfaat bisa didapatkan. Makanlah secara perlahan dan nikmati setiap gigitannya. Ajak seluruh indera tubuh Anda terlibat, mulai dari memperhatikan bentuk, mencium aroma, menikmati rasa, hingga sensasi suara saat menggigit atau mengunyah camilan,” saran Tara.

Sementara itu, Head of Corporate Communication Mondelez Indonesia Khrisma Fitriasari menjelaskan, pada dasarnya orang Indonesia memang suka nyemil. Tercatat orang Indonesia 23 persen lebih banyak ngemil daripada rata-rata global. Studi The State of Snacking yang dilakukan di Indonesia dan 11 negara lainnya mengungkapkan bahwa rata-rata orang Indonesia bergantung pada camilan untuk memenuhi kebutuhan mental dan emosional.