Joglo Jateng – Tumbuh di era serbadigital membuat Generasi Z (Gen Z) hidup di tengah arus standar yang terus meningkat tanpa henti. Keseharian yang tak lepas dari tatapan layar gawai perlahan memicu kesehatan mental Gen Z menjadi rentan terganggu akibat ekspektasi semu.
Tekanan tersebut muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari FOMO (fear of missing out) hingga tingginya kebutuhan akan validasi di dunia maya. Media sosial yang seharusnya menjadi ruang interaksi kini justru berubah menjadi panggung kompetisi gaya hidup.
Psikolog Sirril Wafa menjelaskan bahwa kedekatan sejak lahir dengan teknologi menjadikan dunia maya bagian tak terpisahkan dari identitas anak muda. Kondisi ini secara langsung membentuk cara mereka melihat, menilai, dan menentukan standar kesuksesan.
“Konsumsi media sosial akhirnya menjadi rujukan utama. Ketika lingkungan sosial nyata tidak terlalu berfungsi, dunia mereka justru bergeser ke dunia sosial media,” ungkapnya.
Fenomena flexing atau pamer pencapaian di platform daring membuat standar yang ditampilkan sering kali berada di level yang sangat tinggi. Hal ini mendorong munculnya konformitas, di mana remaja merasa wajib mengikuti tren berpakaian hingga tempat nongkrong demi eksistensi.

“Kalau tidak seperti itu, ada perasaan tidak mengikuti zaman. Ada FOMO, keinginan mengikuti kelompok,” katanya.
Bahaya Validasi Digital dan Gangguan Tidur
Berbeda dengan generasi sebelumnya, referensi pergaulan Gen Z kini menembus batas global sehingga rentan membuat mereka merasa tertinggal. Ketakutan terhadap penilaian negatif makin tinggi karena ukuran keberhasilan sering disandarkan pada jumlah like atau pengikut di layar.
“Kadang itu dijadikan tolak ukur keberhasilan. Ketika like banyak, dia merasa diterima,” tambahnya menyoroti bahaya validasi digital.
Selain beban psikologis, kebiasaan scroll layar ponsel sebelum tidur juga merusak pola istirahat akibat paparan cahaya biru yang menahan otak untuk rileks.
“Idealnya, sebelum tidur 30 menit sampai 1 jam tidak terpapar screen time. Cahaya dari HP atau TV memengaruhi kinerja otak,” ujarnya.
Beban Ganda dari Faktor Ekonomi
Tidak hanya dari dunia maya, tekanan media sosial ini diperparah oleh ketidakpastian ekonomi dan ketatnya persaingan dunia kerja. Banyak anak muda terpaksa mencari penghasilan tambahan melalui side hustle demi meredam kecemasan akan masa depan.
“Ada pasien yang stres karena memikirkan kondisi negara. Kebijakan negara juga bisa memengaruhi stres Gen Z,” jelas Sirril.
Kesulitan mencari pekerjaan yang layak serta sistem yang dirasa tidak adil kerap menimbulkan rasa frustrasi mendalam. Kesehatan mental remaja pada akhirnya menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dari kondisi dan sistem bernegara.
Meski demikian, kreativitas anak muda tetap menjadi senjata utama menghadapi era ini. “Sekarang eranya digital. Gen Z punya kreativitas tersendiri, dan peluang ekonomi kreatif digital bisa sangat terbuka bagi mereka,” pungkasnya. (uma/iza/rds)










