SICAWAN: Inovasi Edukasi Digital Poltekkes Semarang Guna Deteksi Dini Kanker Serviks

KOLABORASI: Tim Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Semarang mengedukasi HPV dan HPV-DNA kepada warga Kelurahan Bandarharjo, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, belum lama ini. (TIM PENGABDIAN MASYARAKAT POLTEKKES KEMENKES SEMARANG/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Tim pengabdian masyarakat dari Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Semarang menyoroti tingginya angka kasus kanker serviks yang masih terjadi pada perempuan. Kondisi tersebut umumnya disebabkan oleh infeksi persisten Human Papillomavirus (HPV) risiko tinggi yang sebenarnya dapat dideteksi sejak dini.

Kolaborasi dosen dan mahasiswa Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Semarang menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di Kelurahan Bandarharjo pada Minggu (21/6/2026) sebagai bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kegiatan berbasis edukasi interaktif digital ini bertujuan meningkatkan kesadaran perempuan usia reproduktif terhadap pentingnya deteksi dini kanker serviks melalui tes HPV-DNA.

Tim pengabdi terdiri atas Arum Budiyati, M.Tr.Keb., Rafika Fajrin, S.Pd., M.Pd., dan Vina Adityas Astuti, S.ST yang berkolaborasi dengan mahasiswa dalam pelaksanaan kegiatan. Sinergi tersebut diharapkan mampu memperkuat pendekatan edukasi kesehatan yang lebih efektif dan mudah diterima masyarakat.

Ketua Tim Pengabdi, Arum Budiyati, menyampaikan bahwa infeksi HPV berisiko tinggi menjadi faktor utama penyebab kanker serviks, namun dapat dicegah melalui deteksi dini. Ia menilai rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat masih menjadi hambatan dalam upaya pencegahan.

“Kanker serviks sebagian besar disebabkan oleh infeksi persisten Human Papillomavirus (HPV) risiko tinggi yang sebenarnya dapat dideteksi lebih dini melalui pemeriksaan skrining,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (22/6/2026).

Dalam kegiatan tersebut, rangkaian dimulai dengan pengisian kuesioner pretest guna mengukur tingkat pengetahuan awal peserta. Selanjutnya, peserta memperoleh edukasi melalui pemaparan materi serta praktik penggunaan aplikasi digital bernama SICAWAN yang dirancang sebagai media pembelajaran interaktif.

Materi yang disampaikan mencakup berbagai aspek, mulai dari faktor risiko, tanda dan gejala kanker serviks, pentingnya vaksinasi HPV, hingga manfaat pemeriksaan HPV-DNA sebagai metode skrining. Seluruh materi disajikan dalam bentuk teks, gambar, serta fitur interaktif yang dapat diakses kapan saja oleh peserta.

Arum Budiyati menyebutkan, hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti kegiatan. Pemanfaatan aplikasi digital juga dinilai mampu mendorong masyarakat untuk lebih aktif mencari informasi kesehatan secara mandiri.

“Penggunaan aplikasi SICAWAN sebagai media edukasi digital terbukti membantu peserta memahami materi dengan lebih baik serta meningkatkan minat untuk mencari informasi kesehatan secara mandiri,” jelasnya.

Ia menambahkan, inovasi edukasi berbasis digital menjadi strategi penting dalam meningkatkan literasi kesehatan reproduksi masyarakat. Melalui kolaborasi antara dosen, mahasiswa, dan masyarakat, program ini diharapkan dapat mendorong kesadaran serta partisipasi aktif perempuan dalam melakukan deteksi dini kanker serviks. (hfh/rds)