Oleh: Sukardi, SE, MM
Mahasiswa S-3 PDIM Unissula, Dosen FEB Untag Semarang
Masa Pandemi Covid-19 yang tanda-tandanya belum akan berakhir, membuat semua aktivitas kehidupan ekonomi tidak bisa bergerak dengan leluasa. Hampir satu tahun pandemi Covid-19 telah memporak porandakan aktifitas sosial dan ekonomi. Terutama sektor usaha menjadi sangat terpuruk, akibat penutupan aktivitas manusia untuk bertransaksi, berbelanja, melakukan perjalanan termasuk perjalanan wisata dan aktivitas lainnya. Hal ini menyebabkan banyak perusahaan dan sektor usaha menjadi tidak bergerak, bahkan ada yang gulur tikar.
Kondisi yang serba kurang menyenangkan ini menuntut para pemimpin (leader) harus pandai menerapkan strategi, teknik menggerakan dan memotivasi karyawan, agar mereka dapat tetap punya semagat bekerja. Pimpinan harus bisa membuat cara agar karyawan itu mau bekerja, untuk selalu berprestasi dengan inovasi-inovasi yang dimilki (leadership achievment). Kreativitas para pemimpin untuk mengelola perusahaan, harus didukung oleh knowledge, dimana seorang pemimpin senantiasa menambah ilmu pengetahuan baik teknis maupun konsep dengan melihat situasi yang selalu berubah dan ketidakpastian, sehingga pemimpin bisa mempunyai strategi pengelolaan perusahaan agar selalu bisa survive. Selain itu, perlu ditambah dengan peningkatan kemampuan skill yang memadai, sebab situasi seperti ini membutuhkan pola kerja efektif dan efesien. Seorang leader dituntut untuk selalu meningkatkan kemampuan (ability) dalam pengelolaan perusahaan, kecepatan untuk beradaptasi dengan perubahan teknologi, ekonomi, politik, lingkungan serta perubahan kebijakan dari pemerintah.
Faktor lain yang dapat memberikan kekuatan dalam mengatasi kondisi pandemi adalah terciptanya kehidupan organisasi yang mampu memahami situasi yang berkembang, sehingga bisa lebih fleksibel dan penuh inovasi. Untuk menuju hal tersebut, setidaknya perusahaan atau organisasi bisa menerapkan tiga hal berikut: Pertama, model adhocracy, yaitu bentuk organisasi yang dapat diterapkan karena fleksibel, mudah beradaptasi dan bisa digunakan untuk pemecah masalah yang beroirentasi pada inovasi (Mintzberg,1979,432). Model adhocracyini muncul akibat perubahan lingkungan yang dinamis dan bisa menjadi problem solving dari masalah yang dihadapi. Sistem organisasi ini sangat fleksibel dan adatif, ketrampilan dan pengetahuan tim sangat dominan, pekerjaan terspesialisasi dan seluruh pekerjaanya dijalankan secara profesional dibidangnya. Semua tim berpartisipasi, sehingga sistem organisasi ini sangat mendorong inovasi dan kreatif pekerjanya. Sebab, organisasi yang fleksibel akan memberikan kemudahan bergerak, berinovasi bagi setiap individu yang terlibat didalam organisasi tersebut. Gambaran model ini adalah Google dan Software Developer.
Kedua, fleksibilitas organisasi yang dilakukan suatu organisasi juga bisa menerapkan konsep Self Managing Organizations (SMO). Yaitu pembagian tugas lebih terdistribusi, masing-masing karyawan dan tim memiliki tanggung jawab untuk mengidentifikasi tugas baru yang perlu diselesaikan untuk memenuhi tujuan organisasi, dan kewenangan untuk menjadikan tugas ini bagian dari struktur organisasi. Salah satu implikasi dari konsep ini adalah bahwa karyawan di SMO harus bersedia dan mampu mengambil tanggung jawab yang lebih luas untuk kesuksesan bisnis dan memajukan organisasi tersebut. Karyawan perlu mencari tahu tugas baru apa yang perlu diselesaikan untuk hasil yang lebih baik. Sehingga karyawan membutuhkan pemahaman tentang tujuan organisasi yang lebih luas agar terbuka untuk mencari tahu hal-hal baru apa yang dapat memajukan tujuan perusahaan atau organisasi. Oleh karena itu, proaktivitas karyawan sangat penting untuk keberhasilan pembagian tugas di SMO. Karena keterlibatan kerja berkontribusi pada proaktivitas dan inisiatif pribadi, sehingga organisasi harus memastikan bahwa setiap karyawan sangat terlibat dan termotivasi untuk bekerja.
Ketiga, adalah kehadiran sumberdaya manusia atau karyawan. Keberhasilan perusahaan sangat tergantung dari perilaku individu karyawannya, sedangkan karyawan yang baik sangat dipengaruhi oleh pendidikan. Faktor pendidikan bagi karyawan sangat mendukung dari segi hardskill, sehingga dapat melaksanakan kegitan sesuai dengan ilmu yang dimiliki. Faktor yang lainnya adalah tingkat kecerdasan. Seorang karyawan yang cerdas akan cepat mudah menerima arahan, masukan dari pemimpin sehingga cepat untuk melakukan tindakan atau aktivitas serta dapat memuncul suatu kreatifitas.
Faktor keahlian juga suatu yang harus dimiliki oleh karyawan. Dengan keahlian tersebut ia bisa bekerja secara efektif, efesien dan tidak banyak mengalami kesalahan yang dapat merugikan perusahaan. Selain itu, karyawan juga perlu memiliki pengalaman. Pengalaman dapat diperoleh dari tindakan atau aktivitas selama di perusahaan atau belajar dari buku, media atau informasi lainnya. Faktor yang lain, karyawan yang harus mempunyai karakter yang baik, didukung perilaku disiplin kerja yang bagus, mampu bekerja secara team work, mempunyai tingkat kejujuran, loyalitas dan komitmen yang tinggi terhadap perusahaan. Dan yang terakhir adalah karyawan yang mempunyai motivasi kerja yang tinggi. Dengan motivasi yang kuat akan memberikan semangat kerja yang bagus selalu akan kreatif dan inovatif baik dalam menjalankan pekerjaan atau mengatasi masalah yang dihadapi.
Kreatifitas individu, managerial competen yang bagus serta kondisi organisasi yang fleksibel dan adatif akan mempengaruhi keberhasilan kinerja organisasi secara keseluruhan. Sehingga hal ini dapat menjawab tantangan kondisi dimasa pandemi saat ini. (*)










