SEMARANG – Tim Kuliah Kerja Nyata Mandiri Inisiatif Terprogram Dari Rumah (KKN MIT DR) Angkatan 11 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo menggelar webinar. Tema yang diangkat dalam acara yang berlangsung melalui Zoom Meeting ini adalah “Mengupas Makna Dakwah Sunan Kalijaga Dalam Syair Lingsir wengi”.
Hadir sebagai pembicara, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo, Anasom. Dalam penyampaiannya, ia menjelaskan syair Lingsir Wengi yang populer di kalangan masyarakat bukan berasal dari dakwah Sunan Kalijaga.
“Syair Lingsir Wengi bukan dari Sunan Kalijaga. Tapi itu Kidung Rumekso ing Wengi,” jelasnya, akhir pekan lalu.
Anasom ingin meluruskan sejarah bahwa masih banyak masyarakat yang salah persepsi dengan menganggap sama antara Kidung Rumekso ing Wengi dengan Lingsir Wengi. Tembang Lingsir Wengi, kata dia, merupakan adopsi dari kidung Rumeksa Ing Wengi ciptaan Sunan Kalijaga dinilai mengalami penyimpangan makna. Sunan Kalijaga menggunakan kidung Rumeksa ing Wengi untuk sarana dakwah, bukan sarana memanggil makhluk halus.
“Banyak masyarakat menganggap sama, sebenarnya berbeda. Karena, Kidung rumekso ing wengi adalah doa tolak balak yang dibuat lagu dengan unsur tembang mocopat dandhang gulo dikutip dari Syair Abad 11. Sementara Lingsir wengi adalah lagu cinta yang keluar tahun 90an, penciptanya Sukap Jiman,” terangnya.
Sementara itu, Ketua pelaksana, Puja Hayati Noor berharap setelah mengikuti kegiatan tersebut masyarakat tidak salah persepsi terhadap syair Lingsir Wengi. “Semoga setelah mengikuti diskusi ini masyarakat lebih memahami lagu Lingsir wengi agar tidak salah persepsi,” jelasnya. (git/fat)










