Pati  

Andalkan Cuaca, Produksi Garam tak Stabil

petambak garam tradisional
PRODUKSI: Seorang petambak garam tradisional yang masih menggunakan metode konvensional di tambaknya. (ACHWAN / JOGLO JATENG)

PATI – Tidak stabilnya produksi garam tradisional di Kabupaten Pati disinyalir disebabkan petambak yang bergantung pada iklim dan cuaca. Penggunaan teknologi konvensional juga menjadi faktor lain penyebab garam tradisional gagal bersaing dengan garam industri yang beredar di pasaran. Cuaca yang tak menentu tersebut membuat produksi garam tradisional bukan bisnis yang menjanjikan.

Kepala Bidang Pengelolaan dan Pengembangan Produk Kelautan dan Perikanan (P3KP), Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati, Johanes Harnoko menyebut, saat intensitas hujan tinggi petambak akan berhenti produksi. “Petambak Pati masih menggunakan cara lama. Memasukkan air tua ke dalam petakan. Lalu menunggu cukup lama untuk panen,” terangnya di Pati, Senin (1/2).

Hal ini membuat banyak petambak mengeluhkan hasil produksinya yang sekadar menumpuk di gudang. Saat dijual pun harganya jauh di bawah harga garam industri. Tantangan teknis produksi garam tradisional tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi pihaknya.

Selain faktor cuaca, permasalahan petambak lain yakni luasan tambak garam yang semakin sempit tiap tahun. Kondisi tersebut membuat produksi garam mengalami fluktuasi yang signifikan. “Kondisi tersebut mempengaruhi kualitas garam petambak tradisional. Bagaimanapun garam industri akan lebih di depan,” sambungnya.

Kendala lain yang dialami petambak adalah jaringan logistik dan pola distribusi garam yang kurang strategis. Sebab, produksi garam dari tambak masih perlu diolah lagi oleh pengepul garam. Harga garam mentah dengan hasil olahan jadi terpaut amat jauh. “Harga garam yang sudah diolah mencapai Rp8000 hingga Rp12.000. Sedangkan harga dari petambak hanya Rp300 hingga Rp350 saja,” ungkapnya.

Ia menilai petambak garam tradisional kurang adaptif terhadap kemajuan teknologi dari hasil riset akademik. Semisal penggunaan unit filter, geo-membran, metode prisma, dan masih banyak lagi. “Sudah ada arahan dari pemerintahan pusat soal metode produksi yang semula on-farm menjadi off-farm. Juga menerapkan kegiatan usaha garam dengan budaya korporasi. Tapi belum maksimal,” imbuh Harnoko.

Pihaknya pengakui bahwa produksi garam tradisional masih bergantung pada mekanisme padat karya di kawan tambak dengan peralatan sederhana. Yakni petambak masih mengandalkan pengauapan air dengan bantuan radiasi matahari. Sehingga kapasitas produksi bergantung pada lamanya musim kemarau. (cr4/abu)