Mahasiswa KKN UIN Walisongo, Angkat Tema Moderasi Beragama

Mahasiswa KKN MIT DR Universitas Islam negeri (UIN) Walisongo
DISKUSI: Mahasiswa KKN MIT DR Universitas Islam negeri (UIN) Walisongo mengadakan Webinar Nasional moderasi beragama yang di selenggarakan melalui aplikasi Zoom, Minggu (14/02). (ISTIMEWA / JOGLO JATENG)

SEMARANG – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Mandiri Inisiatif Terprogram Dari Rumah (KKN MIT DR) Universitas Islam negeri (UIN) Walisongo mengadakan Webinar Nasional moderasi beragama. Tema yang diangkat adalah “Kontribusi Pemuda Dalam Memahami Konsep Hubbul Wathan Minal Iman Guna Menangkal Paham Intoleran di Masa kini” yang di selenggarakan melalui aplikasi Zoom, Minggu (14/2).

Acara tersebut menghadirkan beberapa pemateri seperti Habib Nurruzaman selaku Staff Khusus Kementrian Agama Republik Indonesia. Kemudian Rifqil Muslim selaku Intelektual muda Nahdhatul Ulama dan Imam Yahya selakju ketua Rumah Moderasi UIN Walisongo.

Koordinator Kelompok Ahmad Suprianto mengatakan bahwa moderasi beragama sangat penting bagi pemuda masa kini. “Kebanyakan pemuda khususnya mahasiswa UIN sendiri tidak mengerti yang dimaksud dari moderasi beragama tersebut,” kata Supri.

Ia menambahkan, acara tersebut terinspirasi dari prinsip Nahdhatul Ulama yang salah satunya adalah Hubbul Wathan Minal Iman. Yang berarti mencintai negara adalah sebagian dari iman. Namun pada kenyataanya, banyak pemuda yang terpapar paham radikalisme.

“Kemarin saya membaca sebuah artikel menyebutkan terdapat tujuh kampus yang terindikasi radikalisme,” ungkapnya.

Salah satu pemateri Rifqil Muslim mengatakan bahwa konsep Hubbul Wathan Minal Iman ialah mencintai negara sama berarti mencintai agama lainnya. Nantinya Hubbul Wathan Minal Iman bisa membangkitkan rasa toleransi terhadap agama lain dan terciptanya bhineka tunggal ika.

Menurutnnya moderasi adalah sinergritas antara keadilan dan kebaikan yang nantinya akan menimbulkan toleransi. “Tanpa adanya toleransi tidak akan muncul yang namanya moderasi, bagaimana memahami moderasi tanpa adanya ilmu agama yang baik yang benar,” katanya. (git/fat)