SEMARANG – Sumber daya manusia yang profesional adalah faktor penting yang harus dimiliki sebuah universitas. Dosen, sebagai tenaga pengajar, menjadi ujung tombak dalam meningkatkan kualitas universitas. Selain terus mengambangkan kemampuan mengajar, dosen juga mesti memenuhi administrasi keprofesian, di antaranya pemenuhan Jabatan Fungsional (Jafa).
Bagi perguruan tinggi jabatan akademik sangat penting. Dosen di UPGRIS terus meningkatkan Jafa agar menjadikan kualitas sumber daya manusia terus ditingkatkan. UPGRIS dalam pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat masuk sepuluh besar nasional. Hal ini yang menjadikan kampus terus meningkatkan proses yang terbaik
Sekretaris LLDIKTI Wilayah VI Dr Lukman, mencatat di Jawa Tengah, 13.500 SDM yang tercatat mengajar sebagai dosen. Adapun 5.200 belum punya status. Ia berharap lewat pendampingan itu 17 dosen yang ada hadir bisa sampai ke jenjang guru besar.
Sebab dari 13.500 SDM, baru ada 97 profesor. Untuk itu kami siap optimalkan SDM yang ada, tinggal bapak ibu yang ikut ini mau atau tidak mengupayakan.
Lukman menegaskan, untuk bisa melejit karirnya, perlu adanya karya yang diperoleh dengan melakukan penelitian. ”Dari tri dharma perguruan tinggi, pengajaran sudah baik tapi penelitian yang bermasalah klasternya turun semua. Semoga adanya Jafa ini dimanfaatkan sebaik mungkin,” ujarnya.
Sementara itu Rektor UPGRIS, Dr Muhdi SH MHum menyampaikan apresiasi kemauan LLDikti untuk berkeliling menemui para dosen yang mengajukan jabatan akademik. Walaupun sebenarnya, dia mengungkapkan UPGRIS tidak terlalu banyak masalah dalam pengajuan Jafa.
”Sejauh ini lancer-lancar saja, tapi dengan pembimibingan seperti ini akan lebih baik lagi. Bagi perguruan tinggi memang jabatan akademik dosen akan sangat penting, karena jabatan akademik sampai guru besar tahapannya dari asisten ahli. Adapun yang ikut pendampingan saat ini dari UPGRIS merupakan lektor dan lektor kepala,” tuturnya.
Muhdi bersyukur kampus yang ia pimpin secara penelitian masuk 10 besar nasional di klaster utama. Lalu untuk pengabdian mereka juga masuk 10 besar nasional untuk Perguruan Tinggi Swasta se-Indonesia.
”Dari sisi itu, UPGRIS tidak terlalu problem. Namun demikian tidak semua dosen fasih atau mudah memproses jabatan akademik. Ini saya kira penting dan saya apresiasi LLDikti atas kemauan turun langsung ke perguruan tinggi,” tandas Muhdi. (hms/fat)










