SEMARANG, Joglo Jateng – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang melaporkan, kejadian bencana selama periode 2021 mengalami peningkatan dibandingkan bencana yang terjadi pada 2020 lalu. Dari berbagai bencana di Semarang, tanah longsor yang paling sering terjadi.
Sekretaris BPBD Kota Semarang Winarsono menjelaskan, dari 1 Januari hingga 27 Desember 2021, tercatat jumlah bencana di Kota Semarang sebanyak 412 bencana. Sedangkan data tahun 2020, tercatat jumlah bencana yang terjadi sebanyak 342 bencana.
“Sepanjang 2021, bencana tanah longsor menjadi urutan pertama yang sering terjadi pada tahun ini. Disusul bencana banjir dan pohon tumbang,” katanya, Minggu (2/1).
Selain itu, ia merinci bencana yang terjadi di antaranya talud longsor sebanyak 130 kejadian, banjir 87 kejadian, pohon tumbang 78 kejadian, rob 2 kejadian, puting beliung 37 kejadian, rumah roboh 35 kejadian, dan kebakaran 43 kejadian. Berdasarkan rincian tersebut, menurut Winarsono, bencana itu mengakibatkan kerugian ratusan juta rupiah.
“Memang kalau dari kejadiannya, 2021 lebih banyak, dibandingkan 2020. Tetapi kalau dari sisi kerugian, 2021 lebih sedikit, yaitu hanya sekitar 700 juta. Kalau 2020 kerugian mencapai 2.593.500.000,” paparnya.
Kendati demikian, Winarsono mengaku bahwa data ini akan dijadikan bahan evaluasi. “Dengan data ini, kami tetap akan evaluasi. Dan akan kami koordinasikan dengan dinas terkait. Supaya terjadinya bencana bisa diminimalisir,” ucapnya.
Sementara itu, salah seorang warga RT 3 RW 3, Kelurahan Pedurungan Kidul, Kecamatan Pedurungan, Rais Nur Halim mengaku resah lantaran setiap hujan melanda di wilayahnya selalu terjadi banjir. Ia pun berharap agar pemerintah memberi perhatian khusus.
“Ya gimana, setiap hujan pasti di daerah rumah saya selalu banjir. Meski sudah ada pelebaran gorong-gorong, namun belum merata hanya di RW sebelah saja yang tinggi. Itu membuat daerah RW 3 terdampak, sekali hujan turun pasti banjir,” katanya.
Saat ditanya apakah persoalan banjir tersebut sudah mendapatkan solusi dari pemerintah, ia mengatakan bahwa pihak Pemerintah Kota Semarang maupun kelurahan belum memberikan perhatian khusus atas persoalan banjir itu.
“Tahun 2022, saya berharap wilayah saya menfapatkan perhatian khusus persoalan banjir dan pelebaran gorong-gorong. Jika itu sudah dilaksanakan, saya yakin setiap hujan pasti langsung surut,” ucapnya. (dik/gih)










