Banyak orang ingin membuka sebuah usaha. Akan tetapi, ia tak punya lokasi untuk usahanya itu. Apa yang dilakukan Sholichul Hadi mungkin bisa jadi inspirasi.
TIDAK perlu membutuhkan tempat yang begitu luas, Sholichul Hadi berinisiatif membuka kembali gerai kopi miliknya di rumah. Hal itu lantaran pandemi Covid-19 yang menyerang beberapa waktu lalu, sempat membuat warung kopinya tutup.
Dengan menonjolkan konsep slow bar dan private space, belum lama ini, warung kopinya yang bernama Sae Kopi, kini hadir di rumahnya. Adi, sapaan akarabnya, memanfaatkan ruang depan rumah menjadi tempat berjualan.
“Jadi, konsepnya customer yang datang ke sini itu bisa santai dan bebas. Dalam arti, jika ingin menyeduh sendiri di meja bar bisa, dan kami juga bisa ngobrol individu mereka,” ucap Owner Sae Kopi itu, Minggu (10/4).
Di gerai yang terletak di Desa Purwosari, Kecamatan Kota ini, untuk saat ini hanya disuguhkan menu manual brew dan kopi susu dengan menggunakan biji kopi jenis arabika dan robusta. Adi lebih menonjolkan teknik aeropress atau manual.
Selama Ramadan, dirinya membuka kedai mulai pukul 20.00 hingga 0.00. ketika normal, biasanya ia membuka sejak pukul 08.00 hingga 21.00 malam.
Pria yang bergelut di dunia kopi sejak 2016 ini mengaku, kedepannya akan lebih memperhatikan menu dan sasaran. Pasalnya, sebelumnya ia pernah membuka warung di kampus swasta di Kudus, dengan sasaran mahasiswa.
“Harapannya, kedepan masih akan tetap mengutamakan konsep seperti ini, dan semoga mampu untuk bertahan. Serta akan menambah menu yang ada di meja,” ucapnya. (sam/gih)










