Oleh: Sri Kumawati, S.Pd.,SD
Guru SDN 03 Sewaka, Kec. Pemalang, Kab. Pemalang
SAAT anak masuk SD tentu menjadi salah satu kebahagian tersendiri untuk kedua orangtuanya. Apalagi momen ini menjadi masa peralihan untuk si Anak dari sistem pendidikan di Taman Kanak-Kanak (TK) menuju Sekolah Dasar (SD). Ketika sudah beranjak ke bangku SD, anak akan dituntun untuk semakin familiar terhadap konsep dasar tersebut. Di masa peralihan ini, anak-anak akan menjalani proses belajar atau metode berbeda dari sebelumnya. Bahkan anak-anak akan dituntun untuk belajar melalui sebuah proyek, permainan hingga mengasah otak melalui buku-buku bergambar.
Berikut beberapa cara agar anak kelas 1 SD bisa menikmati belajarnya menjadi lebih menyenangkan agar potensi anak terus berkembang secara optimal. 1) Menerapkan durasi belajar secara bertahap. Masa peralihan dari TK menuju SD bagi anak-anak tentu tidak mudah karena perlu ada adaptasi. Durasi belajar kepada anak-anak yang baru masuk kelas 1 SD perlu diterapkan secara bertahap. Kita sebagai guru juga harus memantau perkembangan si Anak dan selalu usahakan dirinya sudah terbiasa dengan satu durasi belajar sebelum nantinya ditingkatkan ke durasi selanjutnya.
2) Perlu ada selingan selama proses belajar. Anak yang sudah masuk kelas 1 SD tentu membutuhkan pendampingan dari orangtuanya. Tak jarang anak-anak pun bisa merasa bosan karena harus belajar atau mengerjakan tugas sekolah. Untuk itu, orang tua perlu sekali memberikan selingan ketika anak belajar. Tujuannya agar meningkatkan minat serta keinginan si Anak saat proses belajar.
Perlu dipahami pula bahwa berbagai kegiatan selingan ini juga cukup bermanfaat sebagai sumber stimulasi dalam eksplorasi untuk si Anak. Secara tidak langsung kegiatan lain selain belajar seperti pengetahuan, informasi dan pengalaman hidupnya dapat mendukung kemampuan akademis.
3) Mendampingi anak sebagai proses penyesuaian diri. Saat masuk ke tingkat SD, anak-anak akan mulai diperkenalkan serta menerapkan berbagai kebiasaan baru di sekolah, seperti belajar memahami aturan dan rutinitas belajar di kelas, dituntut untuk lebih melatih kemandiriannya menjadi lebih matang, duduk memperhatikan pelajaran dalam jangka waktu tertentu, belajar beradaptasi dan bersosialisasi dengan teman-teman sekelas, dan bekerja sama antar kelompok.
4) Membuat jadwal belajar menjalani lebih rutin. Demi membangun kebiasaan anak untuk lebih rutin belajar. Bahkan, jadwal ini bisa ditempel atau dihias pada dinding dekat meja belajarnya, sehingga si Anak menjadi lebih bersemangat. Selain itu, Kantiana sebagai Psikolog Klinis Anak mengatakan bahwa orangtua perlu menerapkan konsekuensi serta reward bagi anaknya. Reward tidak melulu berupa materi, namun dapat berupa social reward. Mulai dari sebuah pujian, pelukan ataupun Mama bisa melakukan kegiatan-kegiatan menyenangkan yang selalu disukai anak. Dengan begitu jadwal belajar yang dibuat rutin dapat membantunya lebih konsisten.
5) Menerapkan waktu istirahat agar anak tidak bosan. Saat mendidik anak untuk belajar usahakan tidak terlalu keras. Perlu sekali tetap menerapkan waktu istirahat ketika si Anak mulai bosan atau lelah. “Selain itu, tetapkan juga pause time untuk proses belajar anak. Misalnya, bagi tugas menjadi beberapa bagian yang harus diselesaikan anak. Kemudian ketika anak telah menyelesaikan setiap bagian, ia diperbolehkan untuk minum, stretching ataupun sekedar take a break dari tugas yang dikerjakannya selama beberapa saat seperti 5-10 menit. Setelah itu, anak mama dapat kembali mengerjakan tugas lain,” jelas Kantiana.
Kantiana sebagai psikolog yang mendalami soal masalah anak, dirinya menyarankan kepada para orangtua agar menjauhkan berbagai macam distraksi ketika sedang istirahat, seperti bermain gadget atau menonton televisi. Hal ini bertujuan agar si Anak tetap mau kembali belajar setelah beristirahat.
Semoga panduan dalam mendidik Anak yang sudah memasuki kelas 1 SD, bisa bermanfaat untuk para guru terutama guru kelas 1 SD, agar supaya kegiatan belajar bersama anak yang baru masuk kelas 1 SD menjadi lebih menyenangkan serta potensi anak terus berkembang secara optimal. (*)








