KUDUS, Joglo Jateng- Kelompok terbang (kloter) sembilan menjadi kloter terakhir pemberangkatan calon jemaah haji (CJH) asal Kabupaten Kudus. Jemaah haji diingatkan tetap waspada dengan kondisi yang ada disana. Karena tanah suci memasuki musim panas.
Bupati Kudus Hartopo mengingatkan kepada para calon jemaah haji bahwasannya, ibadah haji merupakan ibadah fisik. Keadaan fisik maupun mental harus dipersiapkan dengan baik, serta para jemaah harus selalu menjaga kesehatan.
“Disana itu musim panas terutama 8-10 Dzulhijah, jadi harus betul-betul dipersiapkan fisik dan mentalnya. Asupan yang baik juga diperlukan, terutama untuk ibu-ibu jangan diet dulu disana, nanti kasihan suaminya harus gotong kalau pingsan,” ucapnya.
Dalam perjalanan tersebut, telah disiapkan seorang doktor pendamping dan seorang pendamping dari Tim Pendamping Haji Daerah (TPHD). Diharapkan para jemaah segera lapor jika terjadi sesuatu.
“Ketika para jemaah mengalami sesuatu atau merasa tidak enak badan atau sakit, harus segera diobati dan lapor ke para pendamping. Jadi para jemaah bisa lancar dalam melaksanakan ibadah hajinya,” tuturnya.
Hartopo juga menitipkan doa kepada para calon jemaah haji agar Kudus selalu aman dan tentram, masyarakatnya sehat dan sejahtera, ekonomi Kudus kembali bangkit. Serta pandemi segera pergi dari Kabupaten Kudus.
Salah satu CJH, Muhammad Bariklana mengungkapkan terharu akhirnya bisa berangkat ke Baitullah tahun ini. Erik, sapaan akrabnya, berangkat bersama kedua orang tuanya. Jemaah asal Desa Kaliputu yang masih berusia 24 tahun tersebut bertekad beribadah sekaligus menjaga orang tua.
“Alhamdulillah berangkat bersama orang tua. InsyaAllah menyempurnakan rukun Islam sekaligus menjaga orang tua,” katanya.
Sementara itu, salah satu CJH asal Desa Lau, Sucipto mengungkapkan kebahagiaannya setelah menunggu 11 tahun. Jemaah 54 tahun tersebut berharap dapat menjalankan ibadah haji dengan lancar. “Lega akhirnya berangkat tahun ini. Semoga nanti menjadi haji yang mabrur,” ucapnya. (cr1/hms/fat)










