Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Window Shopping dalam Pembelajaran Seni Tari

Oleh: Ida Martini, S.Pd
Guru Seni Budaya di SMP Negeri 7 Pemalang

DALAM tujuan kurikulum 2013 yang tertuang dalam Permendikbud 69 tahun 2013  siswa dituntut berpikir lebih kreatif, inovatif, cepat dan tanggap.  Selain itu siswa juga dilatih untuk menumbuhkan keberanian dalam dirinya. Sejalan dengan itu tujuan pembelajaran seni tari menurut Sekarningsih dan Rohayani (2006) yaitu menumbuhkan kepekaan rasa estetik dan artistik sehingga terbentuk sikap kritis, apresiatif, dan kreatif pada diri siswa

Selamat Idulfitri 2024

Sesuai tujuan tersebut di atas, maka pada pembelajaran seni tari dengan kompetensi dasar “memahami  keunikan gerak tari kreasi berdasarkan unsur pendukung tari” diperlukan sikap kritis dan apresiatif pada diri siswa. Agar tujuan pembelajaran bisa tercapai, dibutuhkan model pembelajaran yang tepat dan  menyenangkan. Salah satu model pembelajaran yang dapat menciptakan sikap kritis, kreatif dan  menumbuhkan keberanian dalam diri siswa yaitu model pembelajaran kooperatif tipe window shopping.

Model pembelajaran kooperatif tipe window shopping merupakan model pembelajaran yang melibatkan peserta didik untuk berjalan-jalan mengamati hasil pekerjaan dari kelompok lain yang disajikan di dinding kelas, kemudian peserta didik tersebut mencatat hasil pekerjaan kelompok lain itu sebagai hasil dari kunjungan mereka. Kemudian saling mendiskusikan/berbagi dengan anggota kelompok mereka masing-masing. Dengan demikian setiap anggota yang berperan sebagai pengunjung juga akan berbelanja ilmu sebagai oleh-oleh bagi anggotanya yang sedang bertugas sebagai penjaga toko mereka dari kunjungan kelompok lain.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Tahapan-tahapan pembelajaran model kooperatif tipe window shopping adalah sebagai berikut: (1) Peserta didik dibuat menjadi beberapa kelompok. (2)Pendidik menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari. (3)Pendidik membagikan tugas yang berbeda kepada tiap-tiap kelompok yang diberikan secara diundi. (4)Memberikan kesempatan pada kelompok untuk membaca dan mempelajari materi pelajaran. (5)Secara berkelompok siswa mengerjakan soal yang telah diberikan guru. Hasil penyelesain tugas ditulis pada selembar kertas. (6)Hasil pekerjaan tugas tiap kelompok dipajang di dinding-dinding kelas. (7)Setelah proses pajangan hasil tugas kelompok, setiap kelompok akan diberikan tugas dan peran masing-masing. Ada anggota kelompok yang bertugas menjaga toko dan ada juga anggota kelompok yang bertugas berjalan-jalan (visitor)untuk mengunjungi toko kelompok lain. (8)Peserta didik yang bertugas sebagai penjaga toko diharapkan mampu memberi penjelasan kepada anggota kelompok lain yang membutuhkan penjelasan terkait hasil tugas kelompoknya. (9) Bagi anggota kelompok yang bertugas berkunjung pada kelompok lain mencatat hasil pekerjaan kelompok yang dikunjunginya. (10)Setelah waktu yang telah ditentukan selesai,masing-masing anggota yang berkeliling kembali ke kelompok yang dikunjunginya .(11)Setelah kembali anggota kelompok bertukar informasi berdasarkan hasil kunjungan yang telah dilakukan. (12)Pendidik berkeliling mengecek hasil pekerjaan dan melihat hal-hal yang perlu diperbaiki dan memberikan komentar terhadap hasil pekerjaan tiap-tiap kelompok. (13)Pendidik melakukan konfirmasi berupa umpan balik dan koreksi terhadap pekerjaan tiap-tiap kelompok secara klasikal. (14)Pendidik melakukan evaluasi/penilain,baik secara kelompok maupun individu. (15)Pendidik menutup pembelajaran.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Model pembelajaran kooperatif tipe window shopping ini sangat baik diterapkan dalam proses pembelajaran seni tari dengan kompetensi dasar “memahami   keunikan  gerak tari kreasi  berdasarkan unsur pendukung tari” karena model ini dapat meningkatkan peran peserta didik lebih aktif dalam proses belajar. Model pembelajaran kooperatif tipe window shopping ini memberikan pola pembelajaran secara berkelompok sehingga membentuk sikap kerja sama yang aktif antar sesama peserta didik, disamping juga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menjadi tutor sebaya yang berperan dalam menjelaskan hasil kerja kelompoknya kepada seluruh pengunjung yang mengamati hasil kerja mereka. Lebih lanjut, model ini dapat digunakan untuk mengukur kemampuan pemahaman peserta didik ketika dihadapkan dalam menjawab setiap pertanyaan dari peserta didik yang melakukan pengamatan hasil kerja mereka disamping juga membekali peserta didik dengan kemampuan dalam pemecahan masalah yang ada. (*)