Tingkatkan Kreativitas Pembelajaran Seni Rupa dengan Mug Sablon

Oleh: Ida Martini, S.Pd
Guru Seni Budaya SMP N 7 Pemalang, Kabupaten Pemalang

SECARA spesifik, tujuan dari pendidikan di antaranya adalah pengembangan kreativitas. Pendidikan Seni Budaya identik dengan pengembangan kreativitas. Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan komposisi, produk, atau gagasan apa saja yang pada dasarnya baru, atau pengembangan dari pola yang sebelumnya. Hal tersebut dapat berupa kegiatan imajinatif atau sintesis pemikiran yang hasilnya bukan hanya perangkuman, tetapi mencakup pembentukan pola baru dan gabungan informasi yang diperoleh dari pengalaman sebelumnya.

Selamat Idulfitri 2024

La Mery, salah seorang ahli seni rupa dua dimensi yang berasal dari Perancis menyatakan, seni rupa adalah penglihatan secara ekspresi secara simbolis dalam wujud dan bentuk yang lebih tinggi dan akan lebih indah yang dinetralisir menjadi sebuah wujud indah sebagai bentuk ekspresi diri dan emosi. Haukin mengungkapkan bahwa, seni rupa sebagai ekspresi jiwa seseorang yang diimajinasikan pada sebuah bentuk indah yang diungkapkan dan dapat dinikmati oleh orang dalam pertunjukan atau pameran seni.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Dalam kurikulum 2013 khususnya mata pelajaran Seni Budaya selain pengetahuan, juga lebih ditekankan pada keterampilan siswa. Muatan pembelajaran seni budaya kelas IX terdapat karya seni rupa seperti Seni Lukis, Seni Patung, Seni Grafis, dan Pameran Seni Rupa. Pada pembelajaran Seni Rupa kelas IX semester genap, terdapat kompetensi dasar “Memahami prosedur berkarya seni grafis dengan berbagai bahan dan teknik” dengan tujuan pembelajaran berkarya seni grafis dengan bahan mug dan teknik cetak saring atau sablon.

Seni grafis merupakan cabang seni rupa dua dimensi yang pembuatan karyanya dengan menggunakan teknik cetak. Dalam proses pembuatan karya yang termasuk dalam seni grafis, dapat dimungkinkan terjadi pelipatgandaan karya, atau pembuatan dalam jumlah banyak, namun hasil karyanya tetap sama. Seni grafis berdasarkan teknik pembuatannya ada 4 yaitu cetak tinggi, cetak dalam, cetak datar, dan cetak saring. Cetak saring adalah salah satu teknik proses cetak yang menggunakan layar dengan kerapatan serat tertentu. Cetak saring dikenal dengan sablon dan banyak digunakan untuk mencetak tulisan maupun gambar pada permukaan datar atau rata.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Dalam pembelajaran seni grafis, dilaksanakan secara blended learning di mana materi pelajaran diberikan secara daring melalui google classroom dan WhatsApp berupa power point, dan YouTube bagi 50% siswa yang belajar di rumah. Sedangkan 50% siswa yang belajar secara tatap muka di sekolah digunakan untuk praktik membuat mug sablon. Pada awal pembelajaran, guru menyampaikan kompetensi, tujuan pembelajaran, materi pelajaran, dan rencana praktik membuat mug sablon. Dilanjutkan pembentukan kelompok oleh siswa, menyiapkan bahan dan alat yang dipakai dalam pembuatan mug sablon, di antaranya mug warna putih, cat pilox clear, foto atau gambar desain yang di-print secara mirror, air, dan hair dryer/pemanas.

Tahapan-tahap pembuatan mug sablon adalah sebagai berikut: 1) Bersihkan gelas/mug untuk menghilangkan kotoran; 2) Pilih foto/gambar atau desain yang akan dicetak; 3) Semprot desain gambar tersebut menggunakan cat pilox clear; 4) Tempelkan desain pada permukaan mug, sesuaikan gambar pada posisi mug saat masih basah; 5) Ratakan dan hilangkan sisa air dan gelembung yang berada di bawah lapisan desain; 6) Keringkan mug dengan menggunakan hair dryer; 7) Gosok desain dengan menggunakan air agar kertasnya mengelupas; dan 8) Semprot mug dengan menggunakan cat pilox agar desain yang menempel di mug lebih awet.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Praktik membuat mug sablon dapat meningkatkan pengalaman dan kreativitas siswa dalam berkesenian. Siswa dapat belajar dengan baik dan mendapatkan pelajaran dari apa yang telah dialaminya sendiri, bukan hanya melalui cerita ataupun teori. Kegiatan ini mendorong siswa untuk mengembangkan semua komponen dalam dirinya, salah satunya untuk melatih kedua tangannya supaya syaraf otak kanan dan kirinya terlatih dalam menjalankan fungsinya. (*)