PEMALANG, Joglo Jateng – Setelah resmi adanya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada, Sabtu (3/9), hal itu langsung berdampak pada beberapa sektor di lini masyarakat. Salah satunya terjadi di Desa Wanamulya, Pemalang, yang hampir 80 persen masyarakatnya yang berprofesi sebagai petani, mengeluhkan harga BBM dan ketersediaan solar yang terbatas.
Hal itu diungkapkan oleh Waluya (40), petani sekaligus pemilik persewaan traktor menuturkan, bahwa sejak sepekan terakhir dirinya sudah sulit mendapatkan solar. Hal tersebut karena minimnya ketersediaan solar di pusat pengisian BBM, yang sulit dijumpai namun permintaan makin tinggi.
“Kurang lebih sudah sepekan saya sulit dapatkan solar. Kita (petani, Red) di sini juga tetap butuh BBM untuk menghidupkan mesin tani dari diesel, penyedot air, traktor dan combat mesin panen,” terangnya di Wanamulya, Minggu (4/9).
Terkait kenaikan BBM, menurutnya, pemerintah perlu mengevaluasi ulang kebijakannya. Sebab perekonomian pasca Covid-19 masih belum pulih total. Di mana masyarakat menengah kebawah terutama buruh tani masih belum stabil ekonominya.
Sementara itu, Tono (52) buruh tani yang biasa menggarap lahan menjelaskan akan banyak kenaikan bahan pangan ketika harga BBM naik. Mulai dari beras, sayur, telur, minyak dan bahan pokok lainnya, yang perlahan akan naik akibat dampak dari hal itu.
“Tolonglah jangan dinaikan, kita rakyat kecil sudah susah saat pandemi, sekarang baru saja mulai pulih malah dinaikan BBM nya. Bahan kebutuhan pokok pasti semakin hari semakin naik dan kita rakyat kecil paling terkena dampaknya,” pungkasnya.
Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Pemalang Wahadi menuturkan, kenaikan BBM ini secara otomatis akan membuat harga pupuk turut naik. Sehingga dapat dipastikan semua harga bahan pokok secara perlahan naik.
“Kita sebagai OPD hanya mengikuti kebijakan pusat, tetapi kalau seperti ini pasti semuanya naik. Dari pupuk yang menjadi kebutuhan pokok petani harganya naik, akan merambat ke hasil panen, dipastikan naik juga,” imbuhnya. (fan/all)










