KOTA, Joglo Jogja – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) berpengaruh kepada peningkatan inflasi di Kota Yogyakarta. Sehingga pemkot berupaya untuk menekan inflasi, salah satunya dengan bantalan sosial.
Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kota Yogyakarta, Kadri Renggono menuturkan, bahwa kebijakan bantalan sosial dinilai memiliki pengaruh besar dalam upaya menekan inflasi daerah. Sebab adanya program tersebut, masyarakat terbantu, terlebih dengan adanya kenaikan harga BBM dan kebutuhan pokok masyarakat.
“Fungsinya untuk menjaga daya beli. Sehingga mereka tetap bisa melakukan memenuhi kebutuhan, sebab konsumsi rumah tangga kan menjadi sumber utama pertumbuhan ekonomi,” terangnya, Selasa (4/10).
Kadri mengatakan, bahwa dalam waktu dekat Pemkot Yogyakarta akan mengucurkan bantuan sosial dengan sumber dua persen dari Dana Transfer Umum (DTU). Rencana tersebut tengah diproses dalam anggaran perubahan dan tengah diusulkan ke Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
“Itu sudah dihitung, sampai akhir Desember sekitar Rp3,5 miliar. Kita usulkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) untuk warga rentan, UMKM, dan padat karya. Sekarang masih menunggu evaluasi dari Gubernur,” ucapnya.
Sementara tingkat inflasi DIY berdasarkan data terakhir Bulan September 2022, berada di angka 6,81 persen. Menurutnya, kondisi tersebut seperti setali tiga uang, serta nyaris serupa.
“Sebab samplenya di kota semua, Pasar Kranggan, Bringharjo, dan Demangan. Jadi kalau bicara inflasi, DIY dan kota sama,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan, meningkatnya angka inflasi dipengaruhi oleh kenaikan harga BBM. Perubahan harga tersebut berpengaruh kepada kebutuhan pokok masyarakat.
“Kenaikan inflasi disebabkan oleh komoditas yang harganya diatur pemerintah, ya BBM. Dan angka ini kemungkinan memang yang tertinggi sepanjang 2022, BBM jadi penyumbang terbesar,” imbuhnya.
Menurutnya, kenaikan inflasi tersebut ia prediksi akan bertahan lama, hingga triwulan pertama tahun 2023. Sebab adanya libur akhir tahun, dipastikan kunjungan wisatawan melonjak dan mempengaruhi tingkat inflasi.
“Namun kenaikan inflasi ini angkanya tidak menembus angka tujuh persen. Karena pemerintah pusat dan daerah telah mengucurkan BLT, kemudian indeks investasi masih positif, masih berjalan, kredit juga masih tumbuh,” tukasnya. (ers/all)










