IDAI Imbau Hentikan Pemberian Resep Obat Sirup

STOP EDAR: Pegawai mengumpulkan sejumlah obat sirup yang mengandung paracetamol pada salah satu minimarket di Tangerang Selatan, Banten, Rabu (19/10). (ANTARA/JOGLO JATENG)

JAKARTA, Joglo Jateng – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengimbau tenaga kesehatan untuk menghentikan sementara pemberian resep obat sirup. Sebab obat tersebut diduga terkontaminasi etilen glikol atau dietilen glikol. Hal tersebut untuk menekan merebaknya kasus gangguan ginjal akut progresif atipikal yang menyerang anak-anak.

“Bila memerlukan obat sirup khusus, misalnya obat anti epilepsi atau lainnya yang tidak dapat diganti sediaan lain, harap konsultasi dengan dokter spesialis anak atau konsultan anak,” ujar  Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia Piprim Basarah Yanuarso dalam pernyataan di Jakarta, Rabu (19/10).

Piprim menuturkan, jika masyarakat memerlukan obat, maka tenaga kesehatan dapat meresepkan obat pengganti yang tidak terdapat dalam daftar dugaan obat terkontaminasi atau dengan jenis sediaan lain. Obat pengganti tersebut dapat berupa suppositoria (obat yang dimasukkan ke dalam anus) atau bisa juga menggantinya dengan obat puyer dalam bentuk tunggal (monoterapi).

“Peresepan obat puyer tunggal hanya boleh dilakukan oleh dokter dengan memperhatikan dosis berdasarkan berat badan, kebersihan, pembuatan, dan tata cara pemberian,” katanya.

IDAI mengimbau tenaga kesehatan untuk melakukan pemantauan secara ketat terhadap tanda awal gangguan ginjal akut progresif atipikal itu. Baik pasien yang dirawat inap, maupun dirawat jalan. Selain itu, rumah sakit diminta untuk meningkatkan kewaspadaan deteksi dini dan mempersiapkan penanganan kasus tersebut.

Sejak akhir Agustus 2022 lalu, Kementerian Kesehatan dan Ikatan Dokter Anak Indonesia telah menerima laporan peningkatan kasus gangguan ginjal akut progresif atipikal yang dialami anak-anak di bawah usia lima tahun. Hingga 18 Oktober 2022, pemerintah mencatat berdasarkan jumlah kasus yang dilaporkan ada sebanyak 206 anak dari 20 provinsi dengan angka kematian sebanyak 99 anak.

Sementara itu, IDAI Wilayah Jawa Tengah menelusuri temuan satu kasus gagal ginjal akut misterius pada anak usia delapan bulan di Kabupaten Banyumas. Pihaknya pun masih melakukan pelacakan lebih lanjut.

“Ada satu laporan dari Banyumas, ini sedang kami lacak,” kata Ketua IDAI Jawa Tengah Fitri Hartanto di Semarang, Rabu (19/10).

Ia mengatakan, berdasarkan laporan yang disampaikan ke IDAI Jawa Tengah, diagnosis gagal ginjal pada pasien anak tersebut sudah tegak. IDAI Jawa Tengah, ia melanjutkan, masih menelusuri penyebab pasien anak tersebut mengalami gagal ginjal akut.

“Masih kami cari penyebabnya, apakah juga mengonsumsi obat paracetamol yang ditengarai mengandung etilen glikol,” ucapnya.

Ia mengatakan bahwa dokter-dokter anak di wilayah Jawa Tengah telah diminta melaporkan temuan dugaan gagal ginjal akut pada anak. Di samping itu, juga mengecek apakah pasien punya riwayat terserang Covid-19, gangguan saluran pernafasan, maupun saluran cerna. (ara/gih)