Pembelajaran Prakarya melalui PJBL dengan Kartu Proses

Oleh: Sri Prihatiningsih, S.Pd.
Guru Prakarya SMP N 7 Pemalang

MATA pelajaran prakarya merupakan proses pembelajaran yang membentuk siswa agar mampu merencanakan dan membuat produk kerajinan Hasilnya mempunyai nilai jual dan dapat dipergunakan di masyarakat. Proses tersebut bertujuan untuk memberikan bekal keterampilan yang dapat berguna bagi diri sendiri maupun orang lain.

Mata pelajaran terdiri dari empat aspek, yang salah satunya adalah kerajinan. Semua aspek mengajarkan tentang interaksi terhadap karya produk kerajinan dan teknologi yang ada di lingkungan. Yakni dengan berkreasi menciptakan berbagai jenis produk kerajinan maupun produk teknologi. Dengan begitu, diperoleh pengalaman perseptual, pengalaman apresiatif, dan kreativitas dari potensi lingkungan.

Tetapi ternyata mengajarkan cara membuat produk kerajinan dalam tatap muka  pada mata pelajaran prakarya masih mengalami kesulitan kepada peserta didik. Pesera didik kurang memiliki minat dan ketertarikan akan produk yang dibuat. Sehingga mereka beranggapan akan sulit dalam mengerjakannya. Padahal materi kerajinan yang dibuat disesuaikan dengan materi pada capaian pembelajaran yang sedang dipelajari peserta didik.

Usaha meningkatkan kemampuan peserta didik dalam mengembangkan pengetahuan dan keterampilan pada pembelajaran prakarya dapat terwujud. Yakni jika peserta didik memiliki minat yang baik dalam pembelajaran. Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang menyenangkan, pada mata pelajaran prakarya menggunakan model pembelajaran project based learning (PJBL), dengan kartu proses.

Seperti yang kami lakukan dikelas VII SMP Negeri 7 Pemalang pada materi Elemen Produksi. Capaian pembelajarannya adalah peserta didik mampu membuat produk kerajinan modifikasi limbah anorganik lunak sesuai dengan rancangannya. Berdasarkan kajian ergonomis dan potensi lingkungan dan/atau kearifan lokal yang berbasis kewirausahaan. Selain itu, menampilkan melalui display dan/atau         kemasan yang menarik.

Proyek adalah tugas yang kompleks, berdasarkan tema yang menantang yang melibatkan peserta didik dalam mendesain dan memecahkan masalah. Kemudian mengambil keputusan atau kegiatan investigasi. Lalu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja dalam periode waktu yang telah dijadwalkan dalam menghasilkan produk (Thomas, Mergendoller, and Michaelson, 1999).

PJBL adalah model pembelajaran yang didasarkan pada projek, dimana siswa dihadapkan dengan masalah yang ada di dunia nyata. Kemudian bertindak secara kolaboratif untuk menciptakan solusi dari masalah tersebut. Sedang kartu proses adalah kartu yang berisi tahapan proses membuat produk kerajinan dapat berwarna dan bergambar supaya lebih menarik. Tahapan pembelajaran berbasis proyek adalah peserta didik dibagi dalam beberapa kelompok. Berikutnya, setiap kelompok menentuan proyek yang akan dikerjakan.

Setelah itu, merencanakan langkah-langkah menyelesaian proyek, dengan merumuskan tujuan dan hasil yang diharapkan. Yaitu dengan menentukan aktivitas penyelesaian proyek, merencanakan alat, bahan, serta sumber yang mendukung penyelesaian tugas serta pelaporan proyek. Berikutnya, menyusun jadwal pelaksanaan proyek dengan merancang semua kegiatan dan langkah-langkah dan teknik menyelesaikan produk.          Lalu, nenyelesaikan proyek dengan fasilitas dan monitoring guru dengan mengisi rubrik sesuai aktivitas siswa dalam menyelesaikan tugas proyek.

Peserta didik menyusunan laporan dan  presentasi/publikasi, serta evaluasi proses dan hasil proyek yang dilakukan bersama guru dan peserta didik terhadap aktifitas dan hasil tugas. Guru selanjutnya memberikan umpan balik terhadap proses dan produk yang dihasilkan.

Pembelajaran melalui PJBL dengan kartu proses di SMP negeri 7 Pemalang membuat peserta didik bersemangat dalam mempelajari materi Limbah Anorganik mata pelajaran prakarya. Peserta didik menjadi lebih semangat dengan melaksanakan praktik proyek secara langsung dengan menuliskan tahapan pada kartu proses. Suasana kelas menjadi lebih hidup dan menyenangkan. Pembelajaran lebih efektif. Karena peserta didik sangat menikmati proses pembelajaran dengan model ini. (*)