Wali Murid Pelaku Tawuran Hapus Vandalisme

TANGANI MASALAH: Wali murid SMK Negeri 10 Semarang tengah membersihkan bekas vandalisme atau coretan cat di sekitar sekolah, Kamis (5/1/23). (LU'LUIL MAKNUN/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Puluhan Wali Murid SMK Negeri 10 Semarang membersihkan bekas vandalisme atau coretan cat di sekitar sekolah, kemarin. Hal ini dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab orang tua. Yaitu dengan menebus kesalahan anak atas aksi tawuran oleh putra-putrinya pada Desember 2022 lalu, yang menyerang SMK Negeri 3 Semarang.

Salah satu wali murid, Sugito menyampaikan aksi ini dilakukan atas dasar kesepakatan bersama dari pihak orang tua dan sekolah. Sehingga tidak ada keterpaksaan pada saat melakukannya.

“Ini bentuk bertanggung jawab dari kami selaku orang tua atas kejadian kemarin karena anak-anak kami sudah bertindak kurang terpuji,” ujarnya, kemarin.

Sugito mengaku tak mengetahui atas aksi yang dilakukan oleh putranya. Ia berharap aksi ini dapat membantu agar nama sekolah tidak tercemar lagi. Kemudian tindakan tawuran yang telah mengakar itu bisa di akhiri.

“Saya sebagai orang tua pun kaget tau anak saya ikut tawuran ketika dapat pemberitahuan dari sekolah. Kita tahunya anak-anak masuk sekolah jam 7 pulang jam 4. Waktu pulang pun kita nggak tahu kalau anak kita itu habis tawuran,” ungkapnya.

Sugito menyebut, anak-anak yang terlibat masih menjalani pembinaan. Bahkan pembinaan juga dilakukan selama libur sekolah dua minggu lalu. Hingga kemarin, mereka masih menjalani pembinaan dan mulai mendapat pelajaran di kelas pada jam 12.00-15.15 WIB.

“Kesepakatan dari sekolah kemarin untuk anak-anak yang dapat sanksi setelah ini bisa masuk seperti biasa. Maunya kita mereka mendapat haknya sebagai pelajar seperti bisa masuk kelas. Terlepas mau diberikan sanksi monggo,” tutupnya.

Sementara itu Kepala SMK N 10 Semarang Ardan Sirodjuddin menyebutkan keterlibatan wali murid itu penting untuk menyadarkan anak-anak atas perbuatannya. Ia mengaku, pihaknya memberikan pembinaan dalam bentuk bersih-bersih sekolah hingga pendidikan rohani.

“Kalau anak-anak lihat orang tuanya ikut bertanggung jawab seperti ini, harapannya mereka para siswa tersentuh dan sadar,” ujar Ardan. (luk/mg4)