PAD Pariwisata Sleman 2022 Capai 99,32 Persen

Kepala Dinas Pariwisata Sleman Ishadi Zayid. (ADIT BAMBANG SETYAWAN/JOGLO JOGJA)

SLEMAN, Joglo Jogja – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melalui Dinas Pariwisata (Dispar) menyebutkan pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor pariwisata sepanjang 2022 tercapai 99,32 persen dari target. Capaian rupiahnya mencapai Rp. 301.844.850.793.

Kepala Dinas Pariwisata Sleman Ishadi Zayid mengatakan, sepanjang 2022, total wisatawan yang mengunjungi semua objek wisata di Sleman yang dikelola pemerintah daerah sebanyak 7.200.776 orang. Angka tersebut terhitung dari sejumlah 145 destinasi wisata di Sleman. “Angka tersebut didapat dari eventevent yang diselenggarakan di Kabupaten Sleman dan macam-macam destinasi wisata lainnya,” katanya.

Objek wisata kawasan Candi Prambanan disebut masih menjadi tujuan favorit wisatawan dibanding destinasi wisata lainnya. Tidak tercapainya target pendapatan pariwisata hingga 100 persen tersebut, salah satunya karena dampak pandemi Covid-19, terutama pada awal hingga pertengahan tahun lalu.

“Efek pandemi Covid-19 itu memang terasa sekali. Itu terjadi di mana-mana, tidak hanya di Sleman saja, tapi seluruh wilayah di DIY,” tuturnya.

Namun demikian, diharapkan sektor pariwisata di Sleman pada tahun 2023 dapat kembali menggeliat yang berdampak pada kenaikan pendapatan. Hal itu seiring dengan melandainya pandemi Covid-19 di berbagai daerah dan dicabutnya status pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

Dorongan kepada masyarakat untuk mengembangkan wisata terus dilakukan secara masif. Selain itu, masyarakat perlu menggali potensi dan keunikan yang ada di masing-masing wilayah. “Saya rasa saat ini yang perlu diunggulkan adalah keunikan yang ada di wilayahnya. Kalau mengandalkan modern sudah banyak bahkan di Kota-kota sudah bisa didapatkan,” tuturnya.

Dengan ini, wisata berbau lokal akan menarik olah para wisatawan. Dikatakan saat ini, Desa wisata di Sleman tercatat ada 80 Desa Wisata. Dengan pembagian 12 desa mandiri 13 desa maju, 18 desa berkembang, dan selebihnya adalah desa rintisan. “Jadi, itu kenapa kemudian kita harus dorong mereka untuk terus meningkat,” ungkapnya.

Evaluasi terhadap desa wisata akan terus dilakukan selama dua tahun sekali. Hal ini dilakukan agar pengelola desa wisata tidak terlena dan akan terus melakukan inovasi untuk kemajuan wisata ke depannya. (cr5/abd)