KUDUS, Joglo Jateng – Di Bulan Ramadan ini, banyak umat muslim yang berlomba-lomba dan menggiatkan diri untuk beribadah kepada Allah SWT. Tak ada yang salah dengan itu. Hanya saja, hubungan dengan sesama manusia atau hablum minannas jangan sampai lalai atau disepelekan.
Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kudus Suhadi menyampaikan, istilah saleh individual dan saleh sosial marak dibicarakan akhir-akhir ini. Bahkan ada kalangan dari kaum muslimin yang memisahkan secara dikotomi antara saleh individual dengan saleh sosial.
“Kenyataannya memang demikian. Orang yang secara individual, salehnya ditandai dengan ibadah ritualnya yang tekun, sholatnya rajin, puasanya rajin. Tapi belum tentu linear dengan akhlaknya, sikap, dan kepekaan sosialnya,” ungkapnya.
Saleh individual, kata Suhadi sering disebut juga dengan sholeh ritual. Karena ditandai dengan rajinnya mereka beribadah kepada Allah SWT. Sedangkan saleh sosial, ditandai dengan kesantunan menghargai orang lain, mampu melihat dan berfikir dalam perspektif orang lain.
“Jadi saleh ini tidak hanya ditandai dengan rukuk-sujudnya dalam sholat, tidak makan-minum nya dalam menahan puasa, tetapi lebih dari itu. Tetapi bagaimana beribadah ini punya imbas terhadap kepekaan sosial,” jelasnya.
Ia menceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad diberi informasi oleh sahabatnya bahwa ada seorang yang sangat saleh dalam masjid itu. Rasul bertanya, “Kenapa kamu sebut ia sangat saleh?”. Kemudian sahabat menjawab, “Karena setiap saya datang ke masjid, orang itu sudah lebih dulu ada di masjid, dan setiap saya pulang, orang itu masih khusyuk berdoa,”
Kemudian rasul bertanya lagi, “Siapa orang yang memberi makan orang itu, siapa yang menyediakan buka puasanya?”. Lalu sahabat menjawab, “Kakaknya, ya rosul”. “Nah, itu kakaknya sangat saleh,” kata Rasulullah.
Saleh individual dan saleh sosial ini ibarat dua sisi mata uang, yang tidak dapat terpisahkan. Ketika orang bisa menghayati apa tujuan disyariatkannya ibadah itu, maka orang itu seharusnya juga saleh sosial. (mey/mg4)










