SEMARANG, Joglo Jateng – Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) menjadi salah satu objek wisata religi yang memiliki pengunjung terbanyak di Jawa Tengah. Hampir setiap harinya, pengunjung yang datang diperkiraan sebanyak 500 hingga 1000 orang. Baik dari wisatawan lokal hingga internasional.
Ada kegiatan rutin berlangsung di MAJT selama Bulan Puasa. Di antaranya kajian ba’da subuh, ba’da dhuhur, dan menjelang buka puasa; interaksi di radio; dan pembagian takjil. Ngabuburit Asyik, yakni kajian menjelang buka puasa juga diadakan oleh pihak takmir. Kajian berlangsung di salah satu ruangan yang bisa mendekatkan jemaah dengan penceramah.
“Agar bisa berdekatan dengan jamaah sekaligus jamaah juga bisa antuasias mendengar kajian pada kegiatan ini,” kata Humas MAJT, Beny Arief Hidayat, saat ditemui Joglo Jateng, beberapa waktu lalu.
Kegiatan yang paling unik, ujar dia, adalah tradisi tarawih 1 malam 1 juz. Usai salat isya, jemaah melakukan terawih 8 rakaat. Lalu di jeda dengan pembacaan Asmaul Husna. Kemudian, sampai 24 rakaat lengkap, salat witir, dan dilanjutkan dengan tadarus. Salah satu imamnya adalah Abdul Faqih Al Hafizh.
“Para imam yang ada disini sudah banyak yang terkenal. Salah satunya ada Abdul Faqih Al Hafiz juara 3 tahun 2018 di Arab Saudi,” tutupnya.
Beny menceritakan awal dibangunnya masjid ini. MAJT sudah memiliki sertifikat wakaf sejak pangeran Pandanaran kedua pada masa zaman penjajahan Belanda. Namun, pada tahun 1970 ada permasalahan pada perubahan fungsi lahan di Kota Semarang yang mengakibatkan masjid tersebut harus ‘tukar guling’ atau bertukar aset.
“Tapi ada ketidaksetujuan dari beberapa pihak. Sehingga, pada tahun itu para tokoh ulama menuntut untuk dikembalikan, yang akhirnya bisa dikembalikan (tanah wakafnya, Red.) pada tahun 1997,” ucapnya.
Sejak saat itu Gubernur Jawa Tengah, Mardiyanto dan para tokoh ulama bersepakat membangun masjid yang menjadikan monumen agar masalah yang sama tidak terjadi lagi. Maka dibangunlah masjid ini pada 2002.
“Bisa digunakan pertama kali untuk aktivitas ibadah salat Jumat pada tahun 2004, dan pada tahun 2006 diresmikan oleh Presiden SBY,” jelasnya.
Sejak awal berdirinya MAJT, kata dia, tidak hanya fokus pada bangunan masjid saja. Namun ada pula bangunan fasilitas pendukung lainnya seperti gedung pertemuan, perpustakaan, hotel, Menara Al Husna, dan lain-lain.
“Hal yang menarik dari Menara Al-Husna, yakni tidak hanya berfungsi sebagai menara saja. Tapi juga sebagai pendidikan. Ada museum, wisata, resto, kegiatan akademik. Di lantai 19 juga ada pengamatan rukyatulhilal,” tuturnya.
Jika pengunjung hendak masuk museum, dikenakan tiket seharga Rp 10 ribu. Jam operasional selama Bulan Ramadan dibatasi mulai pukul 08.30 hingga 21.00. (cr7/mg4)










