Cegah Inflasi, Pemerintah Terapkan Kebijakan Anggaran

Wakil Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Temanggung, Slamet Eko Wantoro
Wakil Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Temanggung, Slamet Eko Wantoro. (ANTARA/JOGLO JATENG)

TEMANGGUNG, Joglo Jateng – Memasuki masa pemulihan ekonomi masyarakat pascapandemi Covid-19, pemerintah menerapkan berbagai kebijakan anggaran untuk mencegah terjadinya inflasi. Tidak hanya di wilayah kota, daerah-daerah kabupaten pun turut menghadapi persoalan ini.

Wakil Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Temanggung Slamet Eko Wantoro mengatakan, pandemi yang berlangsung selama lebih dari dua tahun memberikan pengaruh yang cukup signifikan pada kebijakan anggaran pemerintah. Sehingga sulit untuk menciptakan kebijakan ekonomi yang benar-benar ideal.

“Ini mungkin dialami oleh hampir kabupaten/kota se-Indonesia,” tutur dia kepada Joglo Jateng, Sabtu (15/4).

Ia menjelaskan, sejak adanya pandemi Covid-19 pada 2020 hingga 2021 lalu, banyak anggaran yang harus dialokasikan untuk menunjang bangkitnya ekonomi masyarakat. Meskipun, anggaran yang ada terbilang terbatas dan masih harus dialokasikan untuk sektor lainnya.

“Tapi apa pun tidak boleh berhenti dengan alasan kekurangan anggaran,” ujarnya

Slamet menyebut, tahun ini Pemerintah Kabupaten Temanggung memiliki tagline Gerbang Emas (Gerakan Membangun Ekonomi Masyarakat). Kegiatan-kegiatannya diampu oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), dengan menghidupkan potensi usaha mikro kecil menengah (UMKM) agar mempunyai semangat baru. Sebab, pilar ekonomi nasional ini selain ada di pertanian, juga UMKM.

“Kita tahu masyarakat kecil ini menghadapi gelombang apa pun masih bisa survive. Beda dengan perusahaan besar, ketika ada gelombang resesi, hancur mereka,” ungkapnya.

Program penguatan ekonomi masyarakat di Temanggung, telah diawali sejak 2022 lalu. Kemudian diperkuat di tahun ini dan akan disempurnakan pada 2024 mendatang. Diketahui, pertumbuhan ekonomi di daerah ini juga sudah cukup tinggi, di atas rata-rata Jawa Tengah.

“Di Temanggung, tahun 2022 pertumbuhan ekonominya sebesar 5,3% ini sudah lumayan bagus,” tuturnya.

Dengan meningkatnya daya ekonomi masyarakat, sirkulasi keuangan dan cash flow bisa terjaga. Hal itu bisa menjadikan semangat daya beli masyarakatnya lebih tinggi.

Namun, di sisi lain, masyarakat juga perlu menyadari bahwa jumlah pengangguran juga tidak sedikit jumlahnya. Di Temanggung sendiri, Slamet mengungkapkan bahwa pada 2022 ada kurang lebih 10.000 orang yang terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK), sehingga menambah jumlah pengangguran. Meski begitu, pertumbuhan ekonomi di luar sektor industri masih terbilang bagus.

“Salah satu andalan dari kita, pertanian itu kan memangku 35% (dari total sektor ekonomi, red). Meskipun tembakau saat tidak begitu bagus, tapi yang harus kita ketahui bahwa di Temanggung ada peralihan komoditas. Masih ada komoditas yang lainya seperti kopi dan cabai,” demikian kata Slamet. (mg4/abd)