SLEMAN, Joglo Jogja – Sebagai upaya untuk menumbuhkan kecintaan kepada seni, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman kembali menggelar festival Karawitan. Acara itu digelar juga sebagai langkah untuk terus melestarikan budaya di Bumi Sembada.
Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) atau Kundha Kabudayan Sleman Edy Winarya mengatakan, kegiatan itu sebagai upaya memperkenalkan budaya serta mewujudkan masyarakat Sleman yang berbudaya. Festival tersebut juga menjadi salah satu upaya untuk memberikan ruang kepada perempuan dalam mengekspresikan diri melalui kesenian Karawitan.
“Festival Karawitan sebenarnya adalah agenda rutin yang menjadi program tahunan Disbud, yang juga merupakan proses seleksi dalam rangka mengirim perwakilan Sleman ke tingkat provinsi karena itu berjenjang,” katanya kepada Joglo Jogja, Jumat (12/5).
Pada tahun ini, kegiatan itu juga dikaitkan dengan rangkaian acara memeriahkan hari jadi ke-107 Kabupaten Sleman. Dalam kegiatan itu, delegasi dari 17 kapanewon di libatkan. “Sebenarnya festival ini adalah karawitan ibu-ibu. Namun pelaksanaanya tidak semua murni ibu, artinya laki laki dibatasi 4 sampai 5 orang sehingga ada kombinasi ibu dan bapak,” terangnya.
Dijelaskan, selama ini perkembangan kelompok Karawitan di Sleman khususnya 17 Kapanewon terus maju dan berkembang. Hampir semua Kapanewon memiliki kelompok Karawitan di wilayahnya.
“Indikatornya banyak kelompok Karawitan yang mengajukan hibah sarana prasarana (sarpras) gamelan yang masuk di Disbud. Ini sebagai tanda bahwa Karawitan itu maju,” tegasnya.
Perkembangan kesenian di Bumi Sembada dirasa sangat bagus. Bahkan, kelompok Karawitan anak juga banyak yang terbentuk. Karawitan unggul berdasarkan hasil festival Karawitan tahun lalu, berkutat di Sleman timur antara Kapanewon Berbah, Kalasan, Depok dan Gamping.
“Artinya peta kualitas Karawitan sampai saat ini masih berada di daerah Sleman Timur. Tidak tahu jika ada perubahan ditahun ini, karena memang dinamika yang dinamis,” ungkapnya.
Dalam perlombaan Karawitan, peserta harus terverifikasi dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Sehingga tidak boleh pinjam personel. Dalam hal ini, kelompok utusan Kapanewon murni dari wilayah asal. Tak hanya perlombaan, dorongan lain selalu diberikan pemerintah untuk memajukan kesenian di Sleman. Dinas berupaya memberikan pembinaan kelompok atau sanggar untuk selalu meningkatkan kualitas seni daerah.
“Dorongan yang kita berikan dengan memberikan fasilitas kepada kelompok pementasan. Tentu itu ada persyaratan kelompok aktif serta kelompok yang belum memiliki fasilitas. Ini terus kita dorong, termasuk penyelenggaraan festival ini mendapatkan penghargaan yang cukup bagus dan memiliki daya tarik. Sehingga menjadi dorongan dalam upaya pelestarian dan Pengembangan seni Karawitan,” paparnya.
Selain dorongan upaya pelestarian pengembangan kebudayaan, Disbud juga melakukan pemberdayaan. Dengan melakukan pemilahan dan melakukan skala prioritas yang dominan dipelajari. Seperti Karawitan, Ketoprak dan Seni Religi.
“Prioritas yang bisa kita lakukan diantaranya yang dominan di masyarakat adalah yang menyangkut kesinian pertunjukan. Selain itu juga regenerasi yang menyasar anak-anak sekolah dengan festival Langen Carita,” tambahnya.
Menurutnya, Festival Langen Carita menjadi upaya mengenalkan potensi budaya sedini mungkin terhadap anak. Hal ini, digadang-gadang mampu menjaga konsistensi kebudayaan dan tetap ada regenerasi.
“Kami mendorong kegiatan seni pertunjukan lebih fokus kepada anak dan remaja. Misalnya Langen Carita, festival dolanan anak, dan mendongeng. Ditambah lagi sosialisasi tata nilai dalam pewayangan,” imbuhnya.
Selain itu, dalam hal menjaga adat tradisi di Sleman Disbud juga memberikan fasilitasi kepada masyarakat. “Sebetulnya, adat dan tradisi ini kebutuhan spiritual masyarakat. Sleman memberikan fasilitasi kepada masyarakat yang akan mengadakan peringatan tradisi,” ungkapnya.
Dengan fasilitasi itu, diharapkan partisipasi masyarakat akan lebih tinggi. Saat ini, setidaknya ada sepuluh event peringatan tradisi yang cukup besar yang masuk didalam calender of event di Bumi Sembada.
“Event tradisi yang juga dapat meningkatkan perekonomian di Sleman adalah tradisi Bekakak, Kiageng Wonolelo serta Bathok Bolu, “ pungkasnya. (cr5/bid)










