Sapu Gelagah dan Hamada Go Internasional

Pengrajin sapu sedang membuat sapu hamada
SUASANA: Pengrajin sapu sedang membuat sapu hamada di Desa Kajongan, belum lama ini. (UMMU ROOFINGATUN/JOGLO JATENG)

DESA Kajongan, Kecamatan Bojongsari, Kabupaten Purbalingga dikenal sebagai sentra kerajinan sapu. Hampir semua warga desa tersebut secara turun temurun menekuni usaha kerajinan sapu ini, baik sebagai pemilik usaha maupun pekerja.

Salah satu warga Desa Kajongan, Budiono memiliki usaha pembuatan sapu gelagah dan sapu hamada. Produksi sapu hamada dimulai sejak tahun 1998 yang merupakan usaha secara turun temurun. Sedangkan untuk sapu gelagah diproduksi pertama kali sekitar tahun 2019.

“Usaha ini milik kakak saya Budiono, yang diwariskan secara turun temuran,” beber adik pemilik usaha sekaligus pengrajin sapu, Trimo, saat ditemui belum lama ini.

Baca juga:  Kaget! Warga Desa Rembang Purbalingga Dapat Kiriman Sapi Kurban Dari Kapolri 

Bahan baku sapu hamada yaitu tumbuhan hamada atau biasa disebut sorgum. Hamada atau sorgum ini berasal dari Jepang dan dibawa pertama kali sekitar tahun 1969an. “Pada produksi kami, sorgum diperoleh dengan cara kerjasama petani dari Tegal. Untuk pengrajinnya sendiri sebanyak 6 orang. Dalam sehari bisa menghasilkan 100 buah sapu hamada,” ungkapnya.

Bahan-bahan pendukung sapu hamada yaitu bambu cendani atau bisa menggunakan rotan, tali raffia, benang nilon, dan senar. Proses pembuatannya yaitu tanaman sorgum direbus terlebih dahulu agar tangkainya lunak. Kemudian masuk ke proses pewarnaan, dan selanjutnya proses penjemuran yang pertama. Setelah itu, disortir grade panjang pendeknya sorgum. Baru kemudian dianyam, disatukan, dan dijahit menggunakan tangan.

Baca juga:  Kaget! Warga Desa Rembang Purbalingga Dapat Kiriman Sapi Kurban Dari Kapolri 

“Selanjutnya, sapu diberi gagang dari rotan atau bambu cendani. Setelahnya dijemur untuk yang kedua kalinya dan dibersihkan biji sorgum yang masih tertinggal sebelum proses pengemasan,” imbuhnya.

Sedangkan untuk bahan baku sapu gelagah yaitu tanaman gelagah atau penduduk sekitar menyebutnya rayung. Bahan baku sapu ini berasal dari Kecamatan Karangjambu.

Usaha milik Budiono telah memiliki pekerja sapu rayung atau gelagah sebanyak 20 orang. Dalam sehari bisa menghasilkan sebanyak 800 sapu rayung.

Adapun proses pembuatannya yaitu, rayung ditimbang dengan berat sekitar 2,8 ons. Kemudian dibuat jari-jari atau diiket kecil-kecil. Selanjutnya digabung dengan cara dijahit menggunakan mesin.

Baca juga:  Kaget! Warga Desa Rembang Purbalingga Dapat Kiriman Sapi Kurban Dari Kapolri 

“Untuk mesinnya sendiri kami datangkan langsung dari Cina. Setelah itu, dipotong atau dirapikan bagian ujungnya. Terakhir kami menyebutnya disebul atau dirontokan serbuk rayungnya sebelum proses pengemasan,” tambahnya.

Distribusi sapu hamada sendiri sudah diekspor sampai ke Jepang. Dalam satu bulan bisa mengirim sekitar 3.000 buah sapu. Sedangkan untuk sapu rayung atau gelagah di kirim ke Korea. Satu bulan bisa mengekspor minimal 10.000 buah sapu. (cr9/gih)