Warga Mengeluh tak mampu Beli Alat Bantu Dengar, Ita Perintahkan Dinsos Data Ulang Tuna Rungu

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) I Gusti Ayu Bintang Darmawati dan Wali Kota Semarang Hevearita G Rahayu dan anak-anak difabel
SEMANGAT: Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) I Gusti Ayu Bintang Darmawati dan Wali Kota Semarang Hevearita G Rahayu dan anak-anak difabel saat kunjungan kerja Jelajah SAPA di Sekolah Berbasis Alam Kebon Dalem, di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tembalang, Minggu (16/7/23). (FADILA INTAN QUDSTIA/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Salah satu warga Kecamatan Tembalang, Rohmah mengeluh kepada Wali Kota Semarang Hevearita G Rahayu terkait ketidakmampuannya untuk membeli alat bantu dengar anaknya yang tuli. Menyikapi hal itu, Ita sapaanya, meminta kepada Dinas Sosial (Dinsos) Kota Semarang untuk mendata ulang anak tuna rungu yang membutuhkan alat bantu dengar gratis.

“Sebenarnya sudah banyak fasilitas kebutuhan masyarakat, tapi mungkin memang kadang ada yang terlewati. Oleh sebab itu, kalau belum bertemu belum bisa bilang. Kita minta kepada dinas sosial untuk mendata ulang melalui BTT (biaya tidak terduga), sehingga kalau ada yang mendadak atau urgent bisa dibantu,” ucapnya usai melakukan kunjungan kerja Jelajah SAPA bersama Kementrian PPPA di Sekolah Berbasis Alam Kebon Dalem, Kelurahan Mangunharjo, Minggu (16/7/23).

Selain itu, pihaknya juga akan menggandeng CSR terkait dengan bantuan alat dengar. Hal itu bisa didapatkan asalkan ada komunikasi dari masyarakat yang membutuhkan bantuan. “Asal ada komunikasi bisa jalan keluarnya. Yang penting jangan takut melapor,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kota Semarang, Heroe Soekandar mengatakan, pihaknya akan mendata setiap anak yang membutuhkan alat bantu gratis. Sebelumnya, ia mengaku, telah memiliki alat tersebut namun dengan tingkatan yang berbeda-beda.

“Kalau ini sudah di 100 dbs jadi sudah cukup parah tentunya alatnya berbeda jadi kita assessment dulu lalu kita ajukan, tapi kalau tidak ada di sini maka kita cari di balai Kartini Temanggung,” jelasnya.

Lebih lanjut, pihaknya memiliki di bawah 100 dbs alat bantu dengar yang ringan dan biasa. Ketika dirinya menanyakan kepada orang tua itu, ternyata tingkat pendengarannya sudah mencapai 100 dbs. Sehingga, pendengarannya sudah cukup parah.

“Bagi yang ingin meminta bantuan alat bantu dengar bisa nanti kita minta alamatnya lalu kita datangi waktu bertugas, seperti alat itu kebutuhannya minta apa,” tuturnya.

Sementara itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (PPPA), I Gusti Ayu Bintang Darmawati yang turut hadir mengapresiasi anak-anak yang mulai berani mengajukan keluhan dan permintaan kepada pemerintah pusat maupun kota.

“Sebenarnya itu tidak masalah bagaimanapun juga itu anak-anak yang meminta. Alhamdulillah dari Bu Wali sudah bisa menangani. Nanti kalau sudah didata mana saja yang bisa dikomunikasikan dengan kementerian sosial,” ucapnya.

Lebih lanjut, menjelang hari Hari Anak Nasional (HAN), dirinya berharap bahwa sudah saatnya anak-anak bersuka cita dengan apa yang menjadi kebutuhan mereka. Maka dari itu, pihaknya membuka kesempatan untuk mendengarkan suara anak, serta apa yang diinginkan.

“Negara harus hadir untuk mereka (anak) bagaimanapun juga anak-anak ini adalah generasi penerus bangsa. Anak berkebutuhan khusus berkesempatan penuh,” katanya.

Ia juga meminta kepada para orang tua untuk menjadi pendamping sebaik mungkin kepada anak mereka. Sehingga, anak difabel dapat memotivasi dirinya yang ternyata tidak ada bedanya dengan anak-anak lainnya. (cr7/gih)