Dinkes Sleman Minta Warga Waspada DBD

jajaran Dinas Kesehatan Sleman saat melakukan pengecekan jentik nyamuk
WASPADA: Petugas dari jajaran Dinas Kesehatan Sleman saat melakukan pengecekan jentik nyamuk di bak kamar mandi warga di Sleman, beberapa waktu lalu. (HUMAS/JOGLO JOGJA)

SLEMAN, Joglo Jogja – Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman mengimbau masyarakat untuk mewaspadai penyakit demam berdarah dengue (DBD) pada musim kemarau ini. Kemarau panjang dinilai dapat menimbulkan potensi yang cukup tinggi terhadap datangnya penyakit itu.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Khamidah Yulianti mengatakan, kewaspadaan atas serangan penyakit sangat diperlukan. Sebab, kondisi cuaca kemarau dan terdampak El Nino bisa memicu terjadinya penambahan kasus DBD.

“Sehingga msyarakat harus tetap waspada terhadap serangan penyakit saat kemarau panjang seperti sekarang ini,” katanya, Kamis (3/8/23).

Meski memasuki musim kemarau, kasus DBD masih ditemukan di Bumi Sembada. Sehingga masyarakat perlu meningkatkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) di lingkungan masing-masing.

Baca juga:  Belbar Pubspeak Tingkatkan Keterampilan Public Speaking Siswa

Berdasarkan data dari Dinkes Sleman, jumlah kasus DBD sampai Juli 2023 di Sleman ada sekitar 103 kasus. Lonjakan tertinggi terjadi pada Januari, bersamaan dengan tingginya curah hujan.

“Dari 103 kasus DBD yang terjadi, nilhil angka kematian terjadi di Sleman,” ungkapnya.

Yuli menambahkan, kasus yang terjadi rata-rata menyerang usia produktif. Berkisar antara usia 19-44 tahun.

Ia juga menyebut, kasus DBD di Sleman menurun dibandingkan tahun sebelumnya pada periode yang sama. Hal itu, dipengaruhi siklus tiga tahunan, dan adanya nyamuk aedes aegypti ber-wolbachia.

Ia menambahkan, langkah efektif untuk mengurangi angka kasus DBD adalah dengan melakukan PSN, sebuah gerakan pemberantasan sarang nyamuk dengan melakukan 3M Plus dan lindungi diri dari gigitan nyamuk. Tak hanya itu, inovasi Satu Rumah Satu Jumantik (Saru Sitik) juga perlu digetok tularkan.

Baca juga:  Kemampuan Digitalisasi Pelaku UMKM Terus Digenjot

”Sleman kan sudah punya gerakan Saru Sitik. Sehingga gerakan satu rumah satu jumantik harus dijalankan. Untuk menjaga dan meningkatkan angka bebas jentik,” ujarnya.

Sementara itu, Sub Koordinator Kelompok Substansi Promosi dan Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat Dinkes Sleman Cahya Prihantama menambahkan, warga juga perlu melakukan gerakan 3M plus. Gerakan itu dilakukan dengan menguras, menutup, dan mengubur tempat-tempat yang bisa menjadi penampungan air untuk perindukan nyamuk aedes aegypti. Serta membubuhkan bubuk abate atau memelihara ikan di bak air.

”Peran jumantik keluarga sangat penting. Selain memantau jentik di rumah masing-masing, jumantik keluarga membuat laporan. Pemantuan jentik berkala ini juga melibatkan anak-anak yang tergabung dalam jumantik cilik,” terangnya.

Baca juga:  Gus Yahya Sebut Kader NU yang Tertinggal sudah Langka

Ia mengatakan, strategi yang diambil adalah perang melawan vektor tular atau nyamuknya. Pembersihan sarang nyamuk dilakukan supaya telur nyamuk tidak menetas.

”Pencegahan yang utama adalah menghindari gigitan nyamuk. Pencegahan yang murah dan efektif untuk memberantas nyamuk ini adalah dengan cara 3M itu tadi. Paling tidak seminggu sekali dilakukan pembersihan. Karena, nyamuk tersebut berkembang biak dari telur sampai menjadi dewasa dalam kurun waktu 7 sampai 10 hari,” pungkasnya. (bam/mg4)