PW IKA-PMII Gelar Tur Seminar di IAI An-Nawawi

Tur Seminar dan Forum Group Discussion (FGD) Penguatan Wawasan Kebangsaan yang bekerjasama dengan Pemprov Jateng di Institut Agama Islam (IAI) An-Nawawi Purworejo, Minggu (27/8). (HUMAS/JOGLO JATENG)

PURWOREJO, Joglo Jateng – Pengurus Wilayah Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PW IKA-PMII) Jawa Tengah kembali menggelar tur Seminar dan Forum Group Discussion (FGD) Penguatan Wawasan Kebangsaan yang bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di Institut Agama Islam (IAI) An-Nawawi Purworejo pada Minggu (27/8) siang hingga sore.

Acara yang bertema “Memperkokoh Demokrasi dan Persatuan Bangsa Menjelang Pemilu 2024” tersebut dihadiri oleh politisi Jawa Tengah seperti Muhammad Hendri Wicaksono dan Muhammad Ngaini Richard.

Selain itu, hadir pula Dr Mustholih, seorang dosen sejarah, politik, dan Studi agama dari Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Kebumen dan Zaenal Arifin Pengiat Pemilu dari Kota Semarang.

Hendri Wicaksono, yang juga anggota DPRD Jawa Tengah asal Fraksi PKB menyampaikan pentingnya pemilu demi keberlangsungan demokrasi sekaligus regenerasi kepemimpinan di Indonesia.

Dia mengatakan, jika pada zaman kerajaan di Nusantara masa silam, sebuah negara yang dikuasai seorang raja tidak bisa melakukan pergantian kepemimpinan yang ideal, karena sistem pewarisan tahta hanya bisa dilakukan di lingkungan keluarga penguasa saja.

“Iya kalau penerusnya bagus dalam memimpin. Kalau penerusnya jelek kan kasihan rakyatnya. Banyak kisah sejarah yang menceritakan saat kerajaan sudah maju malah jadi ambruk gara-gara penerusnya jelek,” ujar Hendri.

Selain itu, Hendri menjelaskan, jika pihak oposisi ingin mengganti kekuasaan pasti harus melakukan pemberontakan atau perang. “Pasti perang kalau oposisi mau mengganti kekuasaan. Karena nggak ada pemilu, nggak ada demokrasi,” tutur Hendri.

Kemudian bergantian Muhammad Ngaini Richard, politisi PPP Jateng itu menjelaskan bahwa pemilu menjadi penting untuk memastikan kebutuhan seluruh rakyat bisa terpenuhi. Setidaknya suara rakyat didengar.

“Ya karena semua rakyat dilibatkan dalam penyelenggaraan,” tandasnya.

Richard menambahkan, pemilu meniscayakan semua kelompok dan masyarakat bisa mengawal kebijakan pemerintah. “Dari situ kita bisa mengawal kebijakan pemerintah supaya tidak menyeleweng,” ungkapnya.

Kemudian Zaenal Arifin selaku pegiat pemilu menyampaikan, generasi muda sekarang harus melek pemilu, artinya jangan sampai proses pemilu dan pesta demokrasi yang ada ini kita tidak tau apa-apa. Tahapan tahapan yang ada di pemilu bisa kita akses melalui banyak informasi baik itu di media KPU atau informasi lainnya.

“Jangan sampai pada saatnya kita tidak ikut berpartisipasi dalam pesta ini, karena satu suara kita sangat menentukan masa depan bangsa ini,” kata dia.

Lalu yang terakhir, Dr Mustholih mengatakan, dalam keadaan kacau, negara lebih baik dipimpin pemimpin dhzolim daripada tidak ada pemimpin sama sekali. “Karena kalau tidak ada pemimpin, kekacauan tidak akan bisa diredam. Itulah pentingnya pemilu,” tutupnya. (hms/rds)