KUDUS, Joglo Jateng – Suasana meriah dan antusias terlihat pada siswa-siswi SMA I Mejobo Kudus. Sebanyak 360 siswa kelas XI nampak piawai memperagakan 3 sesi adat pernikahan dari daerah yang berbeda.
Guru Penggerak SMA I Mejobo Kudus, Priyo Wiharto, menjelaskan, praktik upacara pernikahan yang dilangsungkan terdiri adat Kudus, Jogja, dan Solo. Kegiatan ini merupakan bagian dari gelar karya P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila).
“Diimplementasikan dalam sebuah bentuk karya dari peserta didik merupakan hasil bimbingan para guru. Dengan persiapan selama dua minggu, siswa kelas XI menerima pembinaan pra-menikah. Dan siswa kelas X belajar tari caping, kalo, hingga pembuatan caping bersama pengrajin,” jelasnya saat ditemui di ruangannya, Rabu (25/10/23).
Ia mengungkapkan, gelar karya P5 ini mengambil tema Melestarikan Adat Istiadat sebagai Kekayaan Kearifan Lokal. Priyo mengungkapkan rasa senangnya terhadap antusias siswa yang melakukan persiapan dengan totalitas.
Sementara itu, Wakil Kepala Bidang Kesiswaan, Amirin turut menambahkan, gelar karya P5 ini merupakan sebuah pembelajaran bagi anak. Tujuannya agar mereka bisa mengejawantahkan nilai dari enam Profil Pelajar Pancasila.
“Pengambilan tema ini, berdasarkan fenomena banyaknya generasi sekarang yang melupakan tradisi lokal. Dengan harapan apa yang dilakukan anak-anak ini bisa memberikan wawasan,” ungkapnya.
Menurutnya, kearifan lokal, khususnya di Kudus harus dilanjutkan generasi muda. Lebih lagi, banyak falsafah Jawa penuh nilai yang harus diketahui anak-anak.
“Jangan sampai kearifan lokal ini tak berbekas. Karena pengaruh globalisasi anak-anak jadi tak paham tradisi,” tandasnya.
Dikatakan Amirin, tema P5 ini juga termasuk bagian dari visi sekolah. Yaitu Berprestasi, Lestari, dan Berbakti.
Salah satu siswa SMA I Mejobo Kudus, Riski Hermawan mengaku senang bisa ikut dalam praktik yang diadakan. Dirinya yang turut menjadi orang tua pengantin pada waktu itu merasa terkesan.
“Ini yang pertama berperan jadi orang tua pengantin adat Solo. Tentunya bermanfaat sekali. Jadi lebih tahu mendalam prosesi pernikahan. Karena selama ini cuma sekilas saja,” ungkapnya kepada Joglo Jateng. (cr8/mg4)










