Budidaya Ikan Terkendala Harga Pakan

MERAWAT: Warga Turi Sleman saat melakukan pengecekan terhadap ikan peliharaannya di kolam ikan wilayah Garongan Turi Sleman, belum lama ini. (ADIT BAMBANG SETYAWAN/JOGLO JOGJA)

SLEMAN, Joglo Jogja – Kelompok budidaya ikan di Kabupaten Sleman saat ini tengah terkendala dengan harga pakan yang terus melambung tinggi, terutama pasca pandemi Covid-19. Pasalnya, kenaikan harga pakan bisa menyentuh Rp100 ribu per sak.

Anggota Kelompok Budidaya Ikan (Pokdakan) Mina Taruna, Wonokerto, Turi Wahyu Hidayat mengatakan, harga pakan ikan untuk saat ini menyentuh harga Rp370-380 ribu per sak. Harga tersebut mengalami kenaikan jika dibandingkan sebelum pandemi yang kala itu berkisar di harga Rp270-280 ribu per sak. “Selisihnya seratusan ribu dengan harga jual ikan sama,” terangnya, Rabu (8/11).

Ia menuturkan, tingginya harga pakan tidak sejalan dengan harga jual ikan yang cenderung stabil, dan tidak mengalami kenaikan. Sehingga, hal itu mengurangi pendapatan pembudidaya. “Sebelum kenaikan harga pakan, ikan nila hasil budidaya dijual dengan harga Rp25-27 ribu per kilogram. Kini, setelah ada kenaikan pakan, harga jualnya tetap sama,” ungkapnya.

Bahkan, kadangkala bagi pembudidaya yang mengalami kesulitan air di musim kemarau, ikan dipanen lebih awal dengan harga jual yang relatif lebih murah di harga Rp 23-24 ribu per kilogram. Kondisi tersebut, menyebabkan keuntungan yang didapat oleh pembudidaya ikan semakin menipis.

Wahyu menambahkan, padahal saat ini budidaya ikan lebih sulit karena memiliki resiko yang lebih besar ditengah kondisi perubahan cuaca yang tidak menentu. “Sekarang perubahan cuaca lebih ekstrim, perubahan cuaca mendadak bisa menimbulkan ikan mati,” imbuhnya.

Untuk menyiasati kematian ikan, pihaknya selama ini telah menggunakan teknologi sistem budidaya ikan dengan kincir. Melalui teknologi tersebut, kolam luasan 300 meter persegi mampu panen stabil di kisaran dua ton Ikan.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman, Suparmono menuturkan, satu di antara kendala utama yang dihadapi pembudidaya ikan memang harga pakan yang terus mengalami kenaikan. Untuk menyiasati itu, maka dibutuhkan teknologi.

Pram menambahkan, ada beragam teknologi, mulai dari mikrobubbel maupun sistem budidaya ikan dengan kincir. Melalui teknologi tersebut, maka kepadatan tebar ikan bisa tinggi hingga 40 ekor per meter luas kolam. Selain itu, BEP-nya juga bisa ditekan menjadi Rp 19.500 dengan harga jual Rp 26 ribu per kilogram yang berarti pembudidaya ikan masih bisa untung.

“Jadi kalaupun harga pakan tetap meningkat maka ekosistemnya yang dirubah. Merubah ekosistem bisa menggunakan mikrobabel, bisa menggunakan kincir, bisa menggunakan banyak hal, tambahan oksigen dan sebagainya. Penyiasatan dengan teknologi, termasuk keterbatasan air saat kemarau itu kan airnya terbatas, caranya merubah ekosistemnya pakai teknologi. Dan teknologinya sudah ada,” pungkasnya. (bam/all)