Kasus DBD di Pemalang Turun 50 Persen

Kasi P2pM Dinkes Pemalang Surip
Kasi P2pM Dinkes Pemalang Surip. (UFAN FAUDHIL/JOGLO JATENG)

PEMALANG, Joglo Jateng – Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemalang mengklaim, kasus Demam Berdarah (DBD) pada 2023 turun 50 persen lebih dibandingkan tahun sebelumnya. Dijelaskan bahwa cuaca kemarau ekstrem menjadi faktor utama penurunan kasus tersebut. Selain itu, bertambahnya kesadaran masyarakat juga jadi faktor penunjang lainnya.

Kepala Dinkes Pemalang Yulies Nuraya melalui Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2pM) Surip menjelaskan, data Dinkes Pemalang mencatat 50 kasus terdata di sistem hingga akhir 2023. Dengan jumlah kematian satu korban yang meninggal karena terinfeksi DBD.

Hal ini berbanding jauh jika dibandingkan dengan 2022 dengan angka 114 kasus, dan meninggal 5 orang korban. Sehingga jika dikalkulasi, penurunan kasus lebih dari 50 persen dengan perbandingan tersebut.

Alhamdulillah dihitung hingga akhir 2023 kemarin, kita bisa menekan kasus penularan DBD. Jumlahnya cukup signifikan, lebih dari 50 persen penurunannya. Banyak faktor yang mempengaruhi, terutama cuaca kemarau ekstrem dan kesadaran masyarakat menjaga lingkungan. Tapi terbesar ada di lingkungan panas yang membuat tempat berkembang biak nyamuk berkurang,” jelasnya.

Dikatakan bahwa kasus tertinggi di 2023 berada di Kecamatan Petarukan. Tercatat ada 10 kasus DBD dan satu meninggal dunia. Penyebabnya karena letak geografi lingkungan pantura termasuk dataran rendah yang hangat dan lembap, menjadi tempat yang tepat untuk nyamuk DBD berkembang biak, sehingga Surip meminta masyarakat Petarukan agar lebih waspada terhadap potensi sarang nyamuk di lingkungan mereka.

Lebih lanjut, masyarakat diminta lebih intensif memeriksa lingkungan sekitar, terutama tempat yang berpotensi untuk perkembangbiakan nyamuk. Di mana penularan terbesar berada rata-rata pada anak usia 6-12 tahun. Oleh sebab itu, para orang tua harus lebih menjaga kebersihan lingkungan bermain anak agar kasus di 2024 bisa lebih turun lagi.

“Kita selalu sosialisasikan dengan dibantu para kader PKK di lingkungan masyarakat, memberikan pendidikan untuk menjaga kebersihan lingkungan, yaitu 3M (Menutup, Menimbun dan Mendaur ulang sampah). Langkah kecil ini bisa sebagai antisipasi perlindungan DBD untuk buah hati anak-anak kita tercinta,” ucapnya. (fan/abd)