Disperkim Kota Semarang Siapkan Skema Penanganan Longsor

Kepala Disperkim Kota Semarang, Yudi Wibowo
Kepala Disperkim Kota Semarang, Yudi Wibowo. (FADILA INTAN QUDSTIA/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Dalam mengantisipasi bencana tanah longsor, Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Semarang mulai menyiapkan skema penanganan. Pemerintah juga akan melibatkan beberapa organisasi perangkat daerah (OPD) seperti dinas tata ruang (Distaru), dan dinas pekerjaan umum (DPU).

Kepala Disperkim Kota Semarang, Yudi Wibowo mengatakan, jika proses penanganan bencana longsor bisa menggunakan anggaran BTT (Belanja Tak Terduga). Dana tersebut diperuntukkan untuk keadaan darurat seperti kebencanaan untuk memastikan penanganan lokasi terjadinya bencana tanah longsor bisa cepat teratasi.

“Jadi tak mengandalkan anggaran dari badan penanggulangan bencana daerah (BPBD). Tapi pengajuan dana BTT hanya bisa melalui rekomendasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang,” ucapnya saat ditemui Joglo Jateng, belum lama ini.

Baca juga:  Penjualan Barongsai Meningkat 100 Persen

Ia menambahkan, langkah awal penanganan dilakukan oleh BPBD, yakni pembahasan bantuan-bantuan apa saja yang akan diberikan melalui dana BTT (Belanja Tidak Terduga). Selanjutnya, akan dilakukan pengecekan apakah lokasi yang terdampak longsor, yang termasuk kewenangan Disperkim, DPU, maupun Distaru.

“Intervensinya tersebut, bisa di DPU, bisa di Perkim bisa di Distaru tergantung asetnya masuk mana itu. Kalau di gang-gang kecil yang di perkampungan biasanya jatuh di kami (Disperkim, Red.), tapi kalau yang besar-besar masuknya di DPU. Kami yang di kampung-kampung saja,” jelasnya.

Baca juga:  Masa Tenang, Bawaslu Kota Semarang Fokuskan Pembersihan APK

Dirinya juga telah berkomunikasi dengan ketua RW di wilayah yang rentan terjadi bencana tanah longsor. Dengan begitu, Pemkot Semarang dapat memberikan perhatian dan bantuan terhadap korban bencana longsor.

Sementara itu, Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu mengingatkan kepada dinas-dinas terkait untuk menjaga tata kelola ruang. Kemudian dirinya juga meminta agar saluran-saluran yang dibangun bisa berfungsi dengan baik.

“Kalau salurannya itu gak bener, kan air ke mana-mana. Khususnya di daerah rawan longsor atau di tebing. Pada saat hujan air masuk, kemudian hujan lagi mengurai tanah akhirnya jadi longsor. Memang kalau di Semarang bagian bawah risiko banjir, sementara di daerah atas seperti Candisari kemudian Gajahmungkur itu ada potensi tanah longsor. Tapi kami sudah siapkan skema penanganan,” pungkasnya. (cr7/mg4)