DP3AP2KB Kota Yogyakarta: Terjadi 194 Kekerasan Selama 2023

Plt DP3AP2KB Kota Yogyakarta, Sarmin
Plt DP3AP2KB Kota Yogyakarta, Sarmin. (RIZKY ADRI KURNIADHANI/JOGLO JOGJA)

KOTA, Joglo Jogja – Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Yogyakarta mencatat ada 194 kasus kekerasan di wilayahnya selama Tahun 2023. Di mana 85 kekerasan tersebut terjadi pada anak-anak.

Pelaksanan tugas (Plt) DP3AP2B Kota Yogyakarta Sarmin mengungkapkan, sepanjang 2023 tercatat sebanyak 194 kasus kekerasan di Kota Yogyakarta. Dari jumlah tersebut korban didominasi perempuan.

“Kekerasan sampai akhir tahun 2023 yang ditangani oleh UPT PPA total ada 194 kasus kekerasan. Kemudian kalau dibagi 27 laki-laki dan 167 perempuan. Sehingga pelakunya tidak hanya perempuan saja laki-laki dapat jadi korban, karena pelaku bisa jadi sesama laki-laki. Ada kemungkinan juga istrinya,” ungkapnya

Baca juga:  Gelar Pelatihan KHA, Wujudkan Bantul Kabupaten Layak Anak

Lebih lanjut, Sarmin merinci dari 194 kasus kekerasan yang ada di Kota Yogyakarta tersebut ada sebanyak 85 korban merupakan anak-anak. Serta, 109 korban sudah masuk dalam kategori orang dewasa.

“Dari total kasus selama setahun ini, sebanyak 90 kasus itu kita rekomendasikan ke lembaga lain. Di antaranya kepolisian, pengadilan agama serta lembaga lain yang terkait lainnya,” jelasnya.

Sarmin mengungkapkan puluhan pernikahan anak di wilayahnya. Sepanjang tahun 2023 tercatat ada 49 kasus pernikahan anak yang terjadi di Kota Yogyakarta. Data ini didapatkan setelah DP3AP2KB mengeluarkan rekomendasi nikah pada sepanjang tahun 2023 kemarin.

Baca juga:  Hari Lingkungan Hidup, Wujudkan Bantul Bersama 2025

“Rekomendasi atau dispensasi nikah itu dikeluarkan atas permintaan Pengadilam Agama Kota Yogyakarta. Dengan kata lain dalam tahun 2023 itu terjadi pernikahan anak sebanyak 49 kasus,” imbuhnya.

Ia menambahkan, dengan kejadian itua patut menjadi perhatian semua pihak. Tidak hanya keluarga tapi juga menjadi tanggungjawab semua pemangku kepentingan. Karena itu menjadi suatu hal yang memperihatinkan bagi anak.

” Dengan adanya 49 kasus pernikahan nak ini, kalau kita tarik perbulan berarti ukurannya kira-kira empat kasus dalam satu bulan, berarti 1 minggu ada satu pernikahan anak) Ini kira-kira yang menjadi perhatian kita semua,” pungasnya. (riz/all)