Antisipasi Penyakit, Dinkes Kota Yogyakarta Imbau Lakukan PHBS

MELINTAS: Tampak masyarakat saat melintasi salah satu ruas jalan di Kota Yogyakarta, dalam keadaan hujan deras, beberapa waktu lalu. (RIZKY ADRI KURNIADHANI/JOGLO JOGJA)

KOTA, Joglo Jogja – Menghadapi musim hujan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta mengimbau masyarakat melakukan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Hal itu untuk mengantisipasi terjadinya penyakit, di antaranya Demam Berdarah Dengue (DBD), ispa, diare dan leptospirosis.

Kepala Seksi Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Yogyakarta Endang Sri Rahayu mengajak masyarakat, untuk terus mewaspadai kondisi cuaca musim hujan. Pasalnya, selain DBD terdapat beberapa penyakit yang dapat menyerang siapa pun.

“Walaupun data penyakit masih sangat sedikit. Kami terus memberikan imbauan selalu melakukan hidup sehat dan menjaga kebersihan. Sehingga masyarakat tidak ada yang terkena,” ungkapnya.

Baca juga:  Lima Partai Nonparlemen di Bantul Berkoalisi Jelang Pilkada

Pihaknya juga mengajak seluruh fasilitas pelayanan kesehatan (Fasyankes), untuk terus waspada adanya penyakit menular. Sehingga jika masyarakat mengalami demam secara mendadak atau gejala demam berdarah lainnya, dapat segera melakukan pemeriksaan, dan segera mendapatkan penanganan sedini mungkin.

“Kami mengajak kesiapan fasyankes agar terus waspada terhadap penyakit menular. Kesiapan mulai dari puskesmas dan rumah sakit, serta layanan kesehatan lainnya seperti logistik harus disiapkan. Sehingga, ketika ada kasus meningkat, pihak fasyankes tidak kewalahan,” pungkasnya.

Sementara itu, Programer Kegiatan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit DBD Dinkes Kota Yogyakarta Rubangi mengatakan, pada 2023 kasus DBD mencapai 88 kasus. Jumlah tersebut merupakan yang terendah sejak 2022 sebanyak 180 kasus.

Baca juga:  Sugeng Tanggapi soal Relokasi Teras Malioboro 2

“Saat ini DBD di Kota Yogyakarta merupakan yang paling rendah se-DIY. Hal ini karena adanya kegiatan dari kader dan warga dalam menanggulangi terjadinya penyakit DBD,” ungkapnya.

Lebih lanjut, pihaknya bekerja sama dengan UGM dalam monitoring secara berkala, mengenai populasi nyamuk berwolbachia di wilayahnya. Dengan demikian, diharapkan masyarakat dapat menerapkkan PHBS dan menguras, menutup dan mengubur (3M). Pasalnya nyamuk DBD menyukai genangan air sebagai tempat berkembang biak.

“Saya berharap nyamuk berwolbachia persentasenya bertambah. Sehingga kasusnya menurun dan tentunya akan mengurangi pelaksanaan anggaran, khususnya pelaksanaan fogging di Kota Yogyakarta,” tambahnya.(riz/sam)