Edukasikan Kekerasan Anak dengan Film Jogja Kece

RESMIKAN: Pj. Wali Kota Yogyakarta Singgih Raharjo saat melakukan launching film Jogja Kece di Taman Pintar, belum lama ini. (ISTIMEWA/JOGLO JOGJA)

KOTA, Joglo Jogja – Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga berencana (DP3AP2KB) Kota Yogyakarta, berupaya memenuhi hak-hak anak dan mencegah kekerasan pada anak. Salah satunya edukasi dan kampanye anti kekerasan melalui film pendek berjudul Jogja Kece atau Kids Creative Cieks.

Penjabat (Pj) Wali Kota Yogyakarta Singgih Raharjo mengatakan, film itu memiliki nilai edukasi bagi anak-anak remaja. Lantaran, semakin banyak pengaruh potensi kekerasan di masa sekarang. Baik secara fisik maupun online di media sosial yang banjir informasi, sampai film-film yang seharusnya bagi orang dewasa.

Baca juga:  Tiga Kekerasan Terjadi di Bantul dalam Empat Hari

Hal-hal itu menjadi tantangan bagi pihaknya, sehingga melalui film pendek diharapkan bisa mengedukasi anak-anak. Sekaligus, film ini patut ditonton serta menjadi tuntunan untuk anak-anak Kota Yogyakarta.

“Ini film pertama saya main bersama dengan anak-anak dan merupakan satu film edukasi. Sungguh membanggakan. Mengajak anak-anak speak up bisa berbicara. Bisa terhindar dari isu-isu yang sekarang ini marak dengan bullying atau kekerasan,” paparnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DP3AP2KB Kota Yogyakarta Yunianto Dwisutono menyampaikan, masa remaja merupakan fase peralihan, di mana mereka mencari identitas diri serta eksistensi untuk eklporasi diri. Dilandasi rasa penasaran dan keingintahuan yang tinggi, remaja rentan melakukan berbagai percobaan.

Baca juga:  E-Manajemen Karier Jogja Unggul Pantau Talenta Pegawai

Melihat fenomena itu, diperlukan banyak ruang untuk menampung kreativitas dan kegiatan positif para remaja. Untuk itu, pihaknya membuat film pendek Jogja Kecce yang melibatkan anak-anak remaja.

“Melalui pembuatan film pendek ini, dapat memberikan edukasi dan kampanye tentang anti kekerasan anak, seperti perkawinan, bullying atau perundungan di antara sesama remaja. Mudah-mudahan film ini tidak hanya jadi tontonan, tapi tuntunan,” ungkapnya.

Dalam film pendek itu, mengisahkan komunitas anak sekolah yang bersaing dalam berbagai lomba, seperti debat Bahasa Inggris. Kemudian, rasa iri, konflik, hingga kekerasan verbal terjadi di antara mereka. Selain itu ada anak remaja yang mengalami gangguan psikologis, lantaran hamil dan terpaksa menikah dini.

Baca juga:  Last Minute, Haris Resmi Daftar Cawabup Sleman

“Di sisi lain ada orang tua yang membimbing dan memberi ruang anak remaja, agar tidak terjebak dengan kisah cinta di masa pubertas,” tambahnya.(riz/sam)