Perangi Hoaks lewat Video Prebunking

SUASANA: Pelatihan training pre-bunking yang diikuti oleh para jurnalis dari berbagai daerah di Hotel Andelir, Kota Semarang, belum lama ini. (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Dalam memerangi informasi bohong atau hoaks, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Semarang dan Google News Initiative (GNI) menyelenggarakan Training Prebunking. Kegiatan ini diikuti oleh 25 jurnalis yang berasal dari Semarang, Demak, Kudus, Pati, dan berbagai daerah lainnya.

Salah satu Trainer, Adi Marsiela mengungkapkan, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman jurnalis tentang upaya pencegahan sebelum suatu informasi tidak benar menyebar. Para jurnalis juga mempelajari teori prebunking, misinformasi dari masa ke masa, serta kemampuan memetakan narasi misinformasi dan disinformasi.

“Tujuan pelatihan prebunking merupakan tindak lanjut dari upaya memerangi peredaran informasi bohong. Selain itu, jurnalis belajar pula menganalisa anatomi manipulasi informasi, dan cara membuat konten prebunking,” ujar Adi melalui keterangan tertulis yang diterima Joglo Jateng, belum lama ini.

Lebih lanjut, ia menerangkan, beragam gerakan dan upaya membatasi penyebaran informasi bohong tidak cukup dengan pendekatan debunking atau pembongkaran kebohongan. Sebab, konten bermuatan informasi bohong masih terus mewarnai ekosistem informasi dengan beragam tema. Seperti isu kesehatan, politik, penipuan daring dibalut konteks lowongan kerja, hingga kebencanaan.

Dalam upaya mengatasinya, kata Adi, AJI yang tergabung dalam Koalisi CekFakta menggelar pelatihan prebunking yang mengedepankan pemberian informasi seputar kebohongan informasi yang kerap ditemui. Hal itu supaya publik dapat mengidentifikasinya secara mandiri.

“Target pelatihan ini adalah pemeriksa fakta yang juga jurnalis memiliki kapasitas memproduksi konten prebunking. Harapannya, semakin banyak konten prebunking bisa memperlambat penyebaran informasi bohong,” jelasnya.

Kegiatan ini berlangsung selama dua hari pada Sabtu (24/2/2024) dan Minggu (25/2/2024) lalu. Selama pelatihan, puluhan jurnalis diajak untuk memahami prebunking sebagai pendekatan yang memungkinkan individu untuk mengembangkan ketahanan terhadap disinformasi sebelum mereka terpapar informasi yang salah.

Adapun pelatihan ini mencakup pengembangan keterampilan kritis dan literasi digital yang dapat membantu individu mengidentifikasi, mengevaluasi. Kemudian merespons informasi dengan bijak.

Salah satu jurnalis sekaligus peserta, Baihaqi Annizar mengaku selama pelatihan berlangsung dirinya mendapatkan ilmu baru soal prebunking. Sehingga nantinya akan diterapkan di kesehariannya sebagai jurnalis.

“Tempat kerja saya mengakomodir pembuatan konten prebunking dalam bentuk teks. Selepas pelatihan ini ada tambahan ilmu baru berupa kiat membikin konten prebunking dalam bentuk video,” ungkapnya. (int/adf)