Waspadai Hoaks Tentang Ekonomi

Pakar Komunikasi sekaligus Akademisi Udinus, Dr Agus Triyono,MSi,
Pakar Komunikasi sekaligus Akademisi Udinus, Dr Agus Triyono,MSi, (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Pakar Komunikasi sekaligus Akademisi Universitas Dian Nuswantoro Semarang (UDINUS), Dr Agus Triyono, Msi mengingatkan kepada masyarakat untuk mewaspadai potensi menyebarnya berita hoaks tentang ekonomi selama Bulan Puasa. Salah satunya hoaks tentang harga sembako dan penjualan baju lebaran yang mengarah ke penipuan.

Ia juga menyampaikan bahwa hoaks tentang kesehatan masih marak di media sosial. Yakni tentang pengobatan Demam Berdarah (DB) dan Tuberkulosis (TB) dengan ramuan yang diragukan uji klinisnya.

Selamat Idulfitri 2024

“Oleh karenanya perlu hati-hati dan jangan gunakan internet sebagai salah satu rujukan untuk pengobatan. Itu salah. Jadi kita harus mendapatkan sumber yang jelas melalui dokter atau ahli yang kompeten di bidangnya,” ujarnya jelasnya saat ditemui Joglo Jateng di Gedung D Udinus, belum lama ini.

Baca juga:  Banjir Kaligawe Surut, Warga Terdampak Masih Kesulitan Air Bersih dan Makanan

Ia mengimbau kepada masyarakat, khususnya anak muda untuk memberikan literasi kepada orang-orang terdekat terutama orang tua terkait pencegahan hoaks. Menurutnya, orang tua cenderung kurang memahami ciri-ciri berita hoaks, khususnya yang beredar di grup WhatsApp.

“Tidak langsung percaya dan langsung share. Kita harus bersikap kritis dalam menyikapi informasi yang beredar dan harus tahu sumbernya darimana, kedalaman sumbernya dari mana. Benar atau tidak apalagi yang mengirim berasal dari orang yang tidak kita kenal, mending blokir saja (kontaknya, Red.),” tegasnya yang juga sebagai pegiat literasi anti hoaks Tim Litbang Mafindo.

Baca juga:  Semarakkan Hari Kesadaran Autisme Sedunia

Kemudian, masyarakat juga diimbau tidak langsung menyebarluaskan informasi yang berpotensi hoaks. Agus mengungkapkan, ada upaya yang bisa dicegah dengan menggunakan alat yang mampu memeriksa kebenaran suatu berita. Salah satunya dengan melacak menggunakan tools di Google.

“Harus hati-hati misalnya ada informasi jangan asal klik kemudian terpengaruh dan terprovokasi. Dengan begitu mereka (penyebar hoaks, Red.) mendapatkan keuntungan yang dibutuhkan,” pungkasnya. (int/adf)