DP3AP2KB Kota Yogyakarta Upayakan Prevalensi Stunting di Angka 10%

Plt Kepala DP3AP2KB Kota Yogyakarta Sarmin
Plt Kepala DP3AP2KB Kota Yogyakarta Sarmin. (RIZKY ADRI KURNIADHANI/JOGLO JOGJA)

KOTA, Joglo Jogja – Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Yogyakarta terus berupaya menekan angka prevalensi stunting menjadi 10 persen. Dengan harapan, orang tua dapat pemberian gizi seimbang kepada anaknya.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala DP3AP2KB Kota Yogyakarta Sarmin mengatakan, menurut data Pemantauan Status Gizi melalui Capaian Intervensi Serentak per 30 Juni 2024, Kota Yogyakarta mendapatkan nilai prevalensi stunting 10,6 persen. Angka tersebut menurun dibandingkan dengan prevalensi tahun lalu di 11,8 persen.

“Setelah dilakukan evaluasi bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dari multi-sektoral yang tergabung dalam Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kota Yogyakarta, kami melihat masih ada kekurangan yang segera diselesaikan. Walaupun saat ini angka prevalensinya menurun dibandingkan tahun kemarin,” ungkapnya, belum lama ini.

Ia menambahkan, untuk tahun ini pihaknya optimistis Kota Yogyakarta pada 2024-2025 mencapai target prevalensi stunting di angka kurang dari 10 persen. ”Kita berharap, nantinya capaian intervensi di akhir tahun 2024 atau awal tahun 2025 mencapai prevalensi bisa di bawah 10 persen,” ungkapnya.

Sementara itu, Penyuluh Keluarga Berencana (KB) Kemantren Gedong Tengen, Widyastuti menjelaskan, dalam menurunkan angka stunting, diperlukan dukungan dari orang tua serta keluarga. Lantaran, sampai saat ini masih banyak orang tua yang belum sadar pentingnya pemenuhan gizi pada anak dan pola asuh yang tepat.

“Kita sudah melakukan pendampingan secara maksimal ke wilayah. Namun masih ada perilaku pola asuh yang perlu ditingkatkan. Harapannya, keluarga ikut memperhatikan dalam memberikan gizi seimbang anak mereka,” ungkapnya.

Selain memberikan pendampingan, dalam upaya penurunan stunting di setiap wilayah, dilakukan pemberian asam folat, Vitamin A dan Fe (zat besi), ANC (Ante Natal Care) terpadu, pemberian konseling gizi, makanan tambahan untuk ibu hamil Kekurangan Energi Kronik (KEK), Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita, suplemen zink dan imunisasi, supplement isi Tablet Tambah Darah (TTD), serta kelas calon pengantin dan skrining kesehatan.

Selain itu, ada pula dapur balita dan pendampingan balita, pendampingan ibu, parenting serta penyediaan air minum menjadi upaya langsung yang dilakukan dalam rangka mewujudkan zero stunting. “Semoga dengan upaya yang dilakukan, orang tua juga ikut memantau pertumbuhan anak melalui posyandu secara gratis yang sudah dilakukan setiap bulannya. Sehingga dapat menekan angka stunting di Kota Yogyakarta,” pungkasnya. (riz/abd)