KUDUS, Joglo Jateng – Pengrajin barongan asal Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus raup keuntungan tiga kali lipat di momen Kemerdekaan Republik Indonesia (RI). Pada hari biasa orderan yang masuk hanya belasan yang membeli. Ketika memasuki Agustus 2024 mencapai puluhan.
Pengrajin Barongan asal Desa Karangrowo, Subandi mengungkapkan, untuk pesanan barongan pada Agustus kali ini bisa meningkat 3 kali lipat peminatnya. Dirinya menyebutkan ada berkisar 30 hingga 40 orderan yang masuk. Akan tetapi, pada hari biasa hanya 7-10 pemesanan.
“Agustus 2024 ini, kebanjiran orderan. Sampai sampai saya kekurangan stok bahan. Lantaran peminatnya bertambah,” ungkapnya kepada Joglo Jateng, Selasa (20/8/24).
Meskipun banyak orderan yang masuk, Subandi tetap konsisten membuat sendiri barongannya tanpa melibatkan orang lain. Proses pemanfaatan limbah kayu menjadi kerajinan barongan pun memakan waktu satu hingga dua hari.
Dari proses itu, Bandi selalu melakukan bongkar pasang untuk menemukan komposisi yang cocok. Dia membuat kerajinan itu secara otodidak.
“Saya membuat barongan itu selama satu hingga dua harian dengan bongkar pasang. Saya mendapatkan inspirasi itu juga dari diri sendiri hasil proses bongkar pasang hingga jadi,” terangnya.
Lamanya proses tersebut karena pembuatan kerajinan barongan membutuhkan ketekunan dan ketelitian. Ia juga membeberkan proses pembuatan kerajinan dari awal hingga akhir. Awalnya Subandi memilih limbah kayu palet yang cocok untuk ukuran barongan.
Setelah itu, kayu yang dipilihnya akan digambar dahulu untuk membentuk rangka barongan. Kemudian hasilnya dirangkai bagian demi bagian hingga membentuk kepala barongan. Selanjutnya, dilakukan pengamplasan.
“Nah, setelah itu saya melakukan pengamplasan limbah kayu palet yang sudah berbentuk kepala barongan. Lalu, kepala barongan dicat,” tandasnya.
Saat mencapai proses itu Bandi harus teliti untuk membuat detail motif kepala barongan. Ketika usai, barongan itu diberi rambut-rambut yang terbuat dari buntut sapi. Ia memilih buntut sapi karena dinilai sangat awet dibanding dengan bahan lainnya.
Dirinya mengatakan bahwa karya yang dibuatnya dipatok mulai harga Rp 50 ribu yang bentuknya kecil seperti miniatur hingga Rp 1,5 juta yang berukuran dewasa. Pembeli yang memesan juga bisa mengustom produk barongan tang dibelinya.
“Dalam satu minggu saya bisa setor empat sampai lima buah dengan berbagai ukuran ke toko. Kalau momen tertentu langsung permintaan banyak seperti Agustusan. Apalagi kalau lebaran hingga 40-50 buah. Sedangkan untuk penjualan melalui online menggunakan aplikasi Facebook,” pungkasnya. (cr4/fat)










