SEMARANG, Joglo Jateng – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Provinsi Jateng menyebut sebanyak 83 ribu tim Pendamping Keluarga (TPK) di Jawa Tengah siap menyukseskan program makan bergizi siang gratis. Mereka tersebar di 35 kabupatan/kota di Jateng.
“Kami siap untuk menyukseskan program bergizi yang digagas Presiden dan Wakil Presiden terpilih, Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka. TPK merupakan tim di bawah TPPS (Tim Percepatan Penurunan Stunting) kabupaten/kota. Jumlahnya 83 ribu,” jelas Kabid Keluarga dan Advokasi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi DP3AP2KB Jateng, Yuli Arsianto saat dihubungi Joglo Jateng, belum lama ini.
Menurutnya, tugas TPK adalah mendampingi keluarga-keluarga yang rentan stunting. Yakni dimulai dari calon pengantin, baduta, serta ibu hamil.
“TPK itu ada tiga unsur. Ada kader KB (keluarga berencana), jumlahnya 9.000 di Jateng, kemudian PKK (pemberdayaan dan kesejahteraan keluarga) dan tenaga kesehatan. Satu desa itu ada yang lebih dari satu TPK karena cakupannya luas dikalikan saja desanya 8.600,” bebernya.
Lebih lanjut, pihaknya menyebut hingga kini belum ada persiapan khusus. Sebab belum ada komunikasi dan arahan dari pusat berkaitan dengan program yang digadang-gadang untuk mengatasi masalah kemiskinan dan stunting tersebut. Kendati demikian apabila ada arahan, pihaknya siap untuk eksekusi.
Pihaknya juga sudah melakukan komunikasi dengan Persatuan Ahli Gizi (Persagi). Nantinya para ahli gizi dilibatkan dalam penentuan menu-menu makan yang dapat mencegah anak-anak terkena stunting.
“Seandainya kita mau dilibatkan kita siap karena tim TPK ini otomatis sudah terlatih bagaimana mereka memberikan pendamping terhadap keluarga-keluarga yang rentan stunting pemberian makanan tambahan dan melakukan pendampingan dan pencegahan maupun penanganannya, itu poinnya tugas TPK,” ujarnya.
Yuli mengaku optimistis bahwa program makan bergizi gratis yang diimbangi dengan edukasi dapat menurunkan angka stunting di Jawa Tengah. Sebab, menurutnya, selama ini stunting tidak hanya berkaitan dengan kemiskinan, melainkan juga soal perilaku.
“Kalau kami sebetulnya sangat optimis gitu ya cuma sebetulnya titik penekanan nanti kita akan petakan lebih terperinci lagi karena tidak semua orang yang stunting itu penyebabnya adalah karena kemiskinan. Tetapi ada juga yang disebabkan oleh perilaku kebiasaan makan kurang sehat,” pungkasnya. (luk/gih)










