Keragaman Bahan Pangan Perlu Terus Dikenalkan

Prof. Dr. Ir. Budi Widianarko, M.Sc, Pakar Teknologi Pangan sekaligus Akademisi Fakultas Teknologi Pertanian Unika Soegijapranata. (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

PAKAR Teknologi Pangan sekaligus Akademisi Fakultas Teknologi Pertanian Unika Soegijapranata, Prof. Dr. Ir. Budi Widianarko, M.Sc menekankan pentingnya peran pers dalam memberikan edukasi kepada masyarakat terkait keragaman bahan pangan. Hal ini ia sampaikan dalam momen peringatan Hari Pers Nasional (HPN) yang jatuh pada 9 Februari 2025 lalu.

“Salah satu peran pers yang penting adalah mendidik masyarakat dengan literasi tentang bahan pangan, termasuk bahan pangan pengganti gandum,” ucapnya saat dihubungi Joglo Jateng, Senin (10/2/25).

Lebih lanjut, Budi menerangkan, media berperan dalam membantu mempromosikan riset tentang mocaf (modified cassava flour) atau tepung dari singkong yang telah dimodifikasi melalui proses fermentasi. Ia menyampaikan, sudah banyak riset yang dibuat oleh dosen maupun mahasiswa.

Akan tetapi, permasalahan yang dihadapi saat ini, yaitu skala ekonomi yang belum memadai serta kurangnya sosial marketing. Sehingga, perlunya dukungan dari media guna mengedukasi masyarakat soal mocaf ini.

“Karena secara pribadi saya lebih suka mocaf yang dibuat mi lebih cocok dibanding gandum. Makanya konsumen harus diedukasi (pengetahuan soal mocaf ini, Red.),” jelasnya.

Ia menambahkan, salah satu isu ketahanan pangan yang penting untuk disorot, yakni konsumsi gandum yang terus meningkat. Sedangkan, di Indonesia tidak memproduksi bahan pangan tersebut.

“Ketika kita membicarakan ketahanan pangan seolah-olah melupakan konsumsi gandum yang terus naik. Saat ini gandum itu sudah dikonsumsi sepertiga dari beras,” ungkapnya.

Ia menyatakan, alasan gandum mulai banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Salah satunya karena harganya jauh lebih murah dibanding beras.

“Selain itu, konsumsinya meningkat karena gandum sangat mudah diolah, seperti roti, mi, biskuit, bubur dan masih banyak lagi dalam keadaan siap olah,” kata Budi.

Dengan penemuan tersebut, kata Budi, konsumsi beras cenderung turun dengan nilai di bawah 100 persen per tahunnya. Dari riset tersebut, artinya orang Indonesia mulai mengurangi konsumsi nasi.

“Tetapi yang menarik, gandumnya naik sekitar 5 persen per tahun. Berarti penurunan konsumsi beras itu hanya kurang dari 1 persen kenaikan gandumnya lebih dari lima persen. Kalau berbicara tahun 2045, kemungkinan besar konsumsi gandum akan lebih dari separuh konsumsi beras,” terangnya.

Adapun siasat yang perlu diimplementasikan oleh pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan, yakni dengan mencari bahan-bahan lokal yang bisa menggantikan sebagian dari gandum.

“Atau kalau mau yang lebih ekstrem lagi mampu menghasilkan gandum sendiri dan itu memerlukan investasi yang besar sekali. Namun itu harus dilakukan banyak riset, penelitian dan pengembangan di bidang itu,” ungkap Budi.

Pasalnya selama ini Indonesia pernah menanam sekaligus menghasilkan gandum secara langsung. Namun, hasil panennya dinilai rendah.

Oleh karena itu, dirinya menegaskan, perlunya dukungan politik dari pemerintah dan keberanian untuk investasi dalam menjaga ketahanan pangan. Seperti contohnya, membuat sentra produk mocaf dengan skala besar untuk menggantikan terigu.

“Syaratnya skala gizinya sama dan harganya juga bersaing kalau harganya mahal orang-orang tidak mau (membeli dan mengonsumsi produk mocaf, Red.),” pungkasnya.

Bahkan, ia menerangkan, sudah banyak desa yang memproduksi produk olahan mocaf. Sehingga hal ini yang perlu didorong oleh pemerintah secara matang. (int/adf)