Awal mula dia bisa dipercaya menjadi satu-satunya produsen gelang jemaah haji Indonesia. Sebelumnya, ia hanya pekerja biasa yang membantu produksi gelang haji.
“Dulu itu saya pekerja monel di Surabaya membuat gelang haji juga. Lambat laun bisa memproduksi sendiri, akhirnya dipercaya,” ungkapnya.
Untuk mempercepat proses produksi, dia dibantu 26 karyawan tetap di tempatnya dan 100 karyawan borongan di rumah warga. Mulai dari pemilihan baku hingga finishing.
Ada tujuh tahap dalam pembuatan gelang haji. Pertama, mulai dari pemilihan baku yang telah disesuaikan permintaan dari Kementerian Agama.
“Setelah itu pemotongan-pemotongan papan monel ukuran, dilanjutkan proses sablon dan pemanasan dengan oven dan dikeringkan dengan bantuan matahari,” terangnya.
Kemudian, pemotongan per pcs gelang, membentuk melingkar, finishing, lalu terakhir pengemasan atau packaging. “Gelang yang dipotong kan bentuknya panjang, dengan itu di bentuk melingkar menggunakan alat pres,” sebutnya.
Motif gelang haji yang diproduksi setiap tahun berbeda. Kata Bandi, pada tahun ini yang membedakan adalah di karet gelang setiap embarkasi berbeda warna. Karet akan disablon sesuai kode embarkasi.
“Seperti SUB atau BTC akan digunakan untuk daerah mana,” tambahnya.
Gelang tersebut terdapat logo merah putih, juga tulisan Kementerian Agama RI, paspor hingga kode bandara. Sementara untuk nama jemaah haji, akan dibuatkan oleh karyawan Bandi yang dikirim ke setiap embarkasi.
Ribuan gelang jemaah haji tersebut akan dikirimkan ke seluruh wilayah Indonesia. Mulai dari pulau Jawa, Banda Aceh, Medan, dan lainnya. “Karena pemberangkatan kloter pertama 1 Mei 2025. Kita harus standby H-3 sebelum pemberangkatan,” katanya.
Kata Bandi, kendala dalam pembuatan gelang haji terletak di cuaca. Seperti musim hujan tidak melakukan proses produksi. “Susahnya memang waktu hujan, kami tidak bisa melakukan pengeringan. Kalau hanya menggunakan oven, warnanya kurang bagus,” tutupnya. (oka/gih)










