Jika aktivitas Galian C tetap dilanjutkan, akan mengancam pada sumber mata air yang menjadi sumber kehidupan bagi Dukuh Toplek, Pendem, dan sekitarnya.
“Warga antusias menolak tambang itu karena ingin mempertahankan sumber mata air, sumber air satu satunya di dukuh toplek dan pendem, ketika musim kemarau bisa menolong dukuh yang lain,” tuturnya.
Tak hanya itu, dampak bencana alam seperti longsor hingga polusi udara akibat penambangan tersebut juga mengancam warga. “Takutnya ada tanah longsor atau suara berisik yang sangat mengganggu termasuk debu,” ungkapnya.
Ancaman dan ketakutan warga pun sudah disampaikan dalam audiensi tersebut, namun warga tidak merasa puas lantaran sikap pemerintah yang seolah-olah mendukung adanya penambangan Galian C di Dukuh Toplek maupun Pendem.
“Semua itu sudah saya sampaikan, tapi kami disuruh menerima konsekuensi dampak tersebut karena pihak tambang bisa menanggulangi tersebut. Sebenarnya kami ingin menolak adanya tambang karena tambang besar kecil akan berdampak kepada warga lingkungan,” tegasnya dengan rasa khawatir.
Ali mengakui, sampai saat ini pihak tambang belum pernah melakukan sosialisasi terkait pembangunan tambang di dukuh mereka. Dukuh Toplek maupun Pendem hanya mendapatkan sosialisasi terkait pembangunan jalan pada bulan Desember 2024 kemarin.
“Sebenarnya ijin 2024 tapi saya selaku RW belum ada sama sekali sosialisasi terhadap tambang, diajak musyawarah tidak ada. Pada bulan Desember, pernah ada sosialisi, pihak tambang itu sosialisasi soal pembuatan jalan. Warga seketika itu benar menolak adanya jalan,” tuturnya.
Sampai saat ini, warga Dukuh Toplek maupun Dukuh Pendem hanya bisa berharap pemerintah bisa berpihak kepada warga yang sedang terancam dampak lingkungan pertambangan di dekat tempat tinggal mereka.
“Mohon pemerintah bisa menindaklanjuti supaya benar apa yang kami harapkan dan pertahankan diperhatikan oleh pemerintah,” harapnya.










