Beragamnya latar belakang siswa menjadi tantangan tersendiri. Ada anak yang sudah terbiasa sarapan sebelum berangkat sekolah, namun tak sedikit pula yang belum terbiasa.
“Kami memberikan solusi dengan menyarankan siswa membawa tempat makan tambahan. Jika ada makanan yang tidak langsung dikonsumsi karena sudah sarapan di rumah, makanan tersebut dapat disimpan dahulu dan dimakan pada saat istirahat kedua,” imbuhnya.
Teknis pelaksanaan MBG di SD 5 Bulungcangkring cukup teratur. Makanan dikirim ke sekolah sekitar pukul 08.00 pagi dan diambil pada pukul 10.00 siang. Program ini menyentuh seluruh siswa, dengan total peserta sebanyak 138 anak.
“Pelaksanaannya yang terjadwal dengan baik membuat distribusi makanan berjalan lancar dan tepat sasaran. Kami berharap agar MBG bisa terus berjalan dalam jangka waktu panjang. Bahkan hingga beberapa tahun ke depan,” katanya.
Harapan ini tidak lepas dari pentingnya dukungan orang tua, serta kesadaran siswa akan pentingnya mengonsumsi makanan bergizi. Mereka pun diharapkan terus memberikan support. Baik secara moril maupun dalam bentuk lainnya, untuk kelangsungan program ini.
“Ke depan, kami ingin agar menu makanan yang dikirim semakin disesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan siswa. Dengan begitu, program MBG tidak hanya menjadi kegiatan rutin. Tetapi benar-benar mampu memberikan kontribusi nyata,” harapnya. (cr9/fat)










