Kudus sendiri saat ini memiliki sekitar 25 hotel, namun menurut Kirom jumlah ini masih belum ideal. Apalagi ketika kota ini menjadi tuan rumah event nasional.
“”Kalau ada event berskala provinsi atau nasional, Kudus sering kewalahan dalam hal kapasitas kamar. Idealnya, perlu ada tambahan hotel baru,” tambahnya.
Salah satu langkah yang didorong PHRI adalah meningkatkan jumlah dan kualitas event pariwisata. Baru-baru ini juga, Kudus telah menjadi tuan rumah Kejuaraan Nasional Panahan kelompok umur yang digelar Selasa (13/5/25).
”Event tersebut diyakini mampu meningkatkan okupansi hotel secara signifikan,” katanya.
PHRI Kudus juga aktif menyuarakan aspirasi ke pusat melalui forum Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPRD). Agar kebijakan efisiensi bisa lebih adaptif terhadap kondisi daerah.
“”Kami terus mendorong adanya sinergi antara pemerintah dan pelaku wisata agar wisatawan bisa lebih lama tinggal di Kudus,” kata Kirom.
Secara keseluruhan, kata dia, meskipun dampak kebijakan efisiensi dirasakan, Kudus mampu bertahan berkat karakteristik pasar lokal yang tidak sepenuhnya bergantung pada sektor MICE. ”Kini, yang dibutuhkan adalah penguatan branding dan inovasi agar sektor pariwisata dan perhotelan Kudus terus tumbuh,” pungkasnya. (adm/fat)










