Kaidah Rasm Surah Al-Fātiḥah dalam Manuskrip Mushaf 9 Koleksi Museum Masjid Agung Demak

Adapun qirā’at yang digunakan dalam Manuskrip Naskah Al-Qur’an 9 ini adalah bacaan qirā’at dari Imam ‘Āṣim riwayat Hafṣ. Di antara analisanya ialah pada ayat مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ yang tertulis dengan alif setelah mīm, yang berarti dibaca panjang (Mālik). Dan pada lafaz الصِّرَاطَ ditulis dengan huruf ṣād, bukan sīn (سِرَاط). Penggunaan ṣād juga merupakan dalam bacaan Imam ‘Āṣim riwayat Hafṣ. Dalam qirā’at lain (Qirā’at Warsh), kadang dibaca dan ditulis dengan sīn (سِرَاط).

Manuskrip Naskah Al-Qur’an 9 di Museum Masjid Agung Demak merupakan salah satu manuskrip Al-Qur’an kuno yang menerapkan kaidah rasm Utsmānī pada penulisan Surah Al-Fātiḥah, walaupun ada beberapa bacaan yang disesuaikan untuk membantu pembaca awam.

Keberadaan tanda waqaf serta catatan qirā’at mempertegas fungsinya sebagai mushaf baca dan pengajaran. Manuskrip ini tidak hanya bernilai religius, tetapi juga menjadi warisan budaya yang penting dalam sejarah Islam di Indonesia.

Oleh: Mahyail Ahmad, Ayu Azhar Novita Mubalighoh, Sausan Bilqis Khonsa (Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, UIN Sunan Kudus).