SEMARANG, Joglo Jateng – Sebanyak 20 siswa penyandang disabilitas mengundurkan diri dari Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2025 jalur afirmasi. Rinciannya, 17 siswa SMP dan 3 siswa SD.
Koordinator ULD Pendidikan Disdik Kota Semarang, Putri Marlenny menyebut, alasan utama keputusan tersebut didapat dari keterangan orang tua yang masih ragu, atau takut akan stigma masyarakat di lingkup sekitar.
“Ada 20 siswa (yang mengundurkan diri, Red.), karena (orang tua, Red.) takut anaknya tidak diterima baik di sekolah, ada juga yang tiba-tiba mendaftar ke jalur reguler. Bahkan, ada yang memilih pesantren atau sekolah swasta karena merasa lebih cocok,” ucapnya saat dikonfirmasi Joglo Jateng, Selasa (3/6/25).
Meski begitu, pihaknya tetap mencatat seluruh anak difabel dalam sistem. Selain itu, juga berkomitmen untuk mendampingi mereka, apa pun sekolah yang dipilih.
Dalam hal ini, dirinya turut mengajak sekolah-sekolah negeri untuk menyusun bersama strategi layanan inklusi yang tepat.
“Kalau tenaga pendidiknya ditanya siap atau nggak, realitanya kita terus bersiap diri. Siap secara kognitif, afektif, sudah menyiapkan, dan secara perilaku mereka belajar untuk inklusi,” jelasnya.
Dalam mempersiapkan penerimaan siswa inklusi, kata Putri, tenaga pendidik telah diberi training tentang pendidikan inklusi.
“Pendidikan inklusi ini, para guru juga sedang belajar. Mereka jadi sarjana umum, belajar untuk training pendidikan inklusi, sudah ditraining, mereka sedang proses sambil jalan,” kata Putri.










