Ia menyampaikan, komitmen perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purworejo terhadap pengembangan Musem Tosan Aji. “Kami terus berupaya mengembangkan dan menyempurnakan Museum Tosan Aji yang tidak hanya menjadi sarana pelestarian senjata pusaka, tetapi juga sebagai media edukasi bagi generasi muda kita,” tegasnya.
Yuli berharap agar wayang kulit khas Bagelen dapat lolos menjadi WBTb, sehingga makin menegaskan budaya asli Purworejo di kancah nasional. Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk selalu menjaga dan melestarikan budaya.
“Mari kita jaga, lestarikan dan wariskan budaya yang kita miliki saat ini agar generasi mendatang tidak kehilangan identitas dan jati diri budaya Jawa,” ajaknya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Purworejo Dyah Woro Setyaningsih menjelaskan, pada jamasan tahun ini ada sebanyak tiga buah tosan aji yang dijamas.
“Dua tosan aji merupakan koleksi Museum Tosan Aji yang mewakili era Mataram Kuno, yaitu Keris Naga Pasung (Tangguh Bagelen, masa Kabudhan) dan Keris Brojol (era Mataram Islam). Kemudian, satu tosan aji milik Wakil Bupati Purworejo, Bapak Dion Agasi Setiabudi, berupa Keris berdapur Sengkelat yang dibuat pada masa Sultan Agung,” terangnya. (mrn/sam)










