KENDAL, Joglo Jateng – Dua tradisi sakral digelar warga Kelurahan Bandengan Kecamatan Kendal Kota berhasil menyedot perhatian. Sebuah tradisi Sedekah Laut dan Sekedah Bumi yang rutin digelar di awal bulan Suro (Muharam) ini menjadi ajang ekspresi budaya, rasa syukur, sekaligus kebersamaan warga pesisir Kabupaten Kendal.
Rangkaian acara dimulai sejak pagi dengan kirab budaya yang menyedot perhatian. Sebanyak 11 kelompok dari berbagai kalangan ikut ambil bagian. Anak-anak hingga orang dewasa tampil dalam balutan kostum unik bernuansa tradisional dan kekinian. Kreativitas warga benar-benar ditampilkan tanpa batas, mulai dari pakaian adat, gunungan hasil bumi hingga kostum dari sampah daur ulang.
Start dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Bandengan, peserta kirab mengarak berbagai sesaji seperti kepala kambing, ingkung, dan jajanan pasar menuju makam tokoh pendiri Kelurahan Bandengan. Yakni Mbah Rancang dan Mbah Jenggot.
Usai didoakan, sesaji kemudian dilarung ke laut sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih kepada alam. Yang menarik, sejumlah kelompok juga menyisipkan pesan-pesan sosial dalam penampilannya. Ada yang menyerukan kepedulian terhadap lingkungan dengan kostum daur ulang, ada pula yang menyuarakan kelangkaan BBM solar yang belakangan jadi masalah bagi nelayan.
“Tradisi ini sudah turun-temurun kami laksanakan. Wujud syukur atas berkah dari laut dan bumi,” ujar Subhan Ali, Wakil Ketua Panitia Nyadran. Ia berharap, kegiatan ini bisa terus hidup dan dicintai oleh generasi muda.
Puncak acara berlangsung khidmat namun tetap semarak. Warga berharap tradisi Sedekah Laut dan Sedekah Bumi tak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga perekat solidaritas dan cinta terhadap warisan leluhur. (ags/adf)










